Donor Darah saat Puasa, Bolehkah? Ini Penjelasan Medis dan Tips Amannya

  • 15 Mar 2026 20:09 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purbalingga - Kebutuhan stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) seringkali mengalami peningkatan di bulan Ramadan, sementara jumlah pendonor cenderung menurun karena kekhawatiran akan kondisi fisik saat berpuasa. Lantas, amankah melakukan donor darah dalam keadaan perut kosong?

Dokter Mey Dian Intan Sari Ketua UTD PMI Kabupaten Purbalingga mengatakan dari sisi medis, donor darah saat berpuasa pada dasarnya diperbolehkan dan aman dilakukan, asalkan pendonor memenuhi kriteria kesehatan tertentu dan memperhatikan waktu pengambilan darah yang tepat. Menurutnya secara biologis, tubuh manusia memiliki mekanisme kompensasi saat kehilangan sekitar 450 ml darah. Namun, saat berpuasa, tantangan utamanya adalah risiko dehidrasi dan penurunan tekanan darah secara mendadak,

"Makanya kan para ahli kesehatan selalu menyarankan bahwa ada beberapa indikator yang harus dipenuhi sebelum mendonor, yakni yang utama bahwa kadar Hemoglobin atau Hb, harus berada di rentang normal yakni antara 12,5 sampai 17,0 g/dL, kemudian tekanan darah juga harus stabil yakni Sistole 110-160, dan Diastole 70-100 mmHg, selain itu kondisi fisik juga mendukung seperti tidak sedang lemas, pusing, atau memiliki riwayat penyakit kronis yang tidak terkontrol, " kata dokter Mey.

Ia melanjutkan bagi warga yang akan melaksanakan donor darah saat bulan Ramadhan, maka ada waktu yang perlu direkomendasikan. Hal ini dilakukan untuk untuk meminimalisir risiko pingsan atau lemas berlebihan.

"Jadi ada waktu yang kami rekomendasikan yakni setelah berbuka puasa. ini adalah waktu paling ideal karena tubuh sudah mendapatkan asupan cairan dan glukosa yang cukup, sehingga risiko komplikasi setelah pengambilan darah sangat kecil, kemudian bisa juga pagi Hari atau setelah sahur juga bisa, atau jika harus dilakukan saat siang hari, waktu setelah subuh atau pagi hari lebih disarankan karena cadangan energi dari makanan sahur masih tersedia di dalam tubuh, kemudian berikutnya yakni menjelang berbuka, bisa dilakukan 1 atau 2 jam sebelum azan magrib, sehingga setelah proses donor selesai, pendonor bisa langsung mengganti cairan tubuh yang hilang saat berbuka, "Ujar dokter Mey.

Dokter Mey juga menyarankan bahwa agar proses donor berjalan lancar dan tanpa mengganggu kekhusyukan beribadah maka perlu dilakukan beberapa hal penting. Hal penting tersebut mulai dari mengoptimalkan nutri sahur sampai hindari aktivitas yang berat.

"Saran saya, baiknya konsumsi makanan yang kaya zat besi ya, seperti daging merah, bayam atau kacang-kacangan saat sahur, kemudian minum air putih lebih banyak dari biasanya terutama pada malam hari sebelum hari berdonor, pastikan juga tidur cukup yah, minimal 7 jam lah agar tubuh bugar serta hindari aktivitas yang berat atau olahraga ekstrim selama 24 jam terakhir sebelum donor, " Tambah dokter Mey.

Sebagai informasi tambahan, menurut dokter Mey, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 22 Tahun 2010 telah menyatakan bahwa donor darah tidak membatalkan puasa. Tindakan tersebut justru dipandang sebagai amal saleh yang sangat dianjurkan karena membantu sesama yang membutuhkan di bulan mulia.

"Jadi Masyarakat tidak perlu ragu ya, selama merasa fit dan asupan saat sahur terjaga, donor darah justru membantu sirkulasi darah kita menjadi lebih baik," tuturdokter Mey.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....