Waspadai Gangguan Lambung Saat Berbuka AYCE

  • 08 Mar 2026 01:08 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Restoran berkonsep All You Can Eat (AYCE) kerap menjadi pilihan masyarakat untuk berbuka puasa bersama selama Ramadan. Setelah menahan lapar dan haus seharian, banyak orang tergoda untuk langsung menikmati berbagai jenis makanan dalam jumlah besar sekaligus.

Beragam hidangan seperti daging berlemak, makanan pedas, gorengan, hingga minuman manis sering dikonsumsi dalam waktu singkat. Kebiasaan ini membuat lambung yang sebelumnya kosong menerima asupan makanan dalam jumlah besar secara tiba-tiba.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan di dalam lambung, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak atau pedas. Akibatnya, sebagian orang mengeluhkan perut terasa sangat penuh, cepat kenyang, mual, hingga rasa tidak nyaman di area ulu hati setelah makan.

Keluhan tersebut kerap dianggap sebagai gejala asam lambung naik atau GERD. Padahal dalam banyak kasus, kondisi tersebut lebih sering berkaitan dengan dispepsia, yakni kumpulan gejala gangguan pencernaan seperti rasa penuh setelah makan, kembung, nyeri ulu hati, hingga sensasi terbakar pada perut bagian atas.

Dispepsia biasanya muncul karena gangguan fungsi lambung, bukan selalu akibat luka pada dinding lambung. Konsumsi makanan dalam porsi besar, terutama yang tinggi lemak, dapat memperlambat proses pengosongan lambung sehingga makanan bertahan lebih lama di dalamnya.

Perubahan pola makan saat Ramadan juga turut memengaruhi kondisi ini. Lambung yang tidak menerima asupan selama berjam-jam tiba-tiba harus memproses makanan dalam jumlah besar. Kondisi tersebut sering disebut masyarakat sebagai “lambung kaget”, yakni proses adaptasi mendadak terhadap volume dan jenis makanan yang berat.

Jika kebiasaan makan berlebihan saat berbuka hanya terjadi sesekali, keluhan biasanya bersifat sementara. Namun apabila pola makan tersebut terus berulang, gangguan dispepsia dapat terjadi lebih sering dan berpotensi meningkatkan risiko refluks asam lambung.

Ketika tekanan di dalam lambung meningkat, katup antara lambung dan kerongkongan dapat terbuka sehingga asam lambung naik ke esofagus. Kondisi ini menimbulkan sensasi panas di dada atau heartburn yang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease.

Penelitian yang dipublikasikan oleh American College of Gastroenterology menunjukkan bahwa porsi makan besar dan makanan tinggi lemak menjadi salah satu faktor risiko terjadinya refluks asam.

Meski demikian, makan di restoran AYCE saat berbuka tidak otomatis menyebabkan GERD. Faktor yang lebih berpengaruh adalah pola dan tempo makan. Para ahli menyarankan untuk memulai berbuka dengan minum air dan makanan ringan, kemudian memberi jeda sekitar 5 hingga 10 menit sebelum mengonsumsi hidangan utama.

Dengan mengatur tempo makan secara bertahap dan tidak berlebihan, lambung memiliki waktu untuk beradaptasi setelah seharian kosong. Cara ini dinilai dapat membantu mengurangi risiko gangguan pencernaan selama berbuka puasa.

*Catatan redaksi:

Artikel ini dimodifikasi oleh AI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....