Ini Dampak Pemanfaatan Limbah Plastik pada Kesehatan

  • 04 Feb 2026 16:35 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar kesehatan lingkungan dari IPB University, Benedikta Diah Saraswati menyampaikan, bahwa ditengah upaya mencari solusi penanganan sampah plastik yang dinilai lebih murah dan praktis oleh sejumlah industri makanan dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan menurutnya itu berpotensi menimbulkan risiko kesehatan karena dapat menghasilkan berbagai senyawa berbahaya yang mencemari produk pangan sekaligus lingkungan di sekitar sentra industri.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University itu menjelaskan,  bahwa praktik emisi gas hasil pembakaran plastik dapat mengontaminasi produk selama proses produksi.

“Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan,” kata Diah, dikutip dari Press Release IPB University pada Rabu, 04 Februari 2026.

Secara biomedis, dioksin dan furan termasuk dalam kelompok polutan organik persisten yang dapat bertahan sangat lama di dalam tubuh manusia. Diah menjelaskan bahwa paparan jangka panjang bersifat genotoksik karena mampu merusak DNA. 

“Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker,” jelasnya.

Diah menambahkan, kontaminan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan yang terpapar. Selain senyawa kimia beracun, aktivitas pembakaran plastik juga berkontribusi terhadap peningkatan paparan mikroplastik di udara, yang dapat terhirup atau mengendap pada bahan pangan. Partikel berukuran sangat kecil ini berpotensi masuk ke saluran pernapasan atau pencernaan dan menyebar ke berbagai organ tubuh.

“Misal pada hati akan bekerja keras untuk mendetoksifikasi racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil dan sulit diurai, justru terjadi beban kerja berlebih yang memicu peradangan,” ungkapnya.

Selain itu, senyawa-senyawa berbahaya dalam plastik yang dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon. 

Bahkan pringatnya zat itu mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme. 

“Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin,” ujarnya.

Risiko kesehatan tidak hanya dialami oleh konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra industri. 

"Asap dari pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 serta mikroplastik di udara yang dapat terhirup hingga ke paru-paru. Partikel ini sulit diurai oleh sistem pertahanan tubuh dan dapat memicu peradangan secara terus-menerus,” jelasnya.

Dalam jangka pendek, paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menurunkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....