Perhatian Palsu di Era Digital
- 14 Jul 2026 14:36 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Di era media sosial dan aplikasi kencan, menjalin komunikasi menjadi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan berbagai fenomena baru dalam hubungan interpersonal, salah satunya adalah breadcrumbing. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang memberikan perhatian atau sinyal ketertarikan secara sesekali untuk membuat orang lain tetap berharap, tanpa memiliki niat menjalin hubungan yang serius.
Breadcrumbing dapat terlihat dari kebiasaan mengirim pesan secara tiba-tiba setelah lama menghilang, memberi pujian atau rayuan tanpa kejelasan arah hubungan, hingga terus memberikan respons yang cukup agar komunikasi tetap berjalan. Sekilas perilaku ini tampak seperti bentuk perhatian, padahal sering kali hanya menjadi cara untuk mempertahankan perhatian seseorang tanpa komitmen yang nyata.
Dilansir dari Psychology Today (psychologytoday.com/us/basics/breadcrumbing), breadcrumbing membuat seseorang terus berada dalam siklus harapan dan ketidakpastian. Perhatian yang diberikan secara tidak konsisten dapat memicu rasa penasaran sekaligus membuat penerimanya terus menunggu momen ketika hubungan tersebut akan berkembang menjadi lebih serius. Padahal, ekspektasi tersebut belum tentu sesuai dengan niat orang yang memberikan “remah-remah” perhatian itu.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep intermittent reinforcement dalam psikologi, yaitu pola pemberian respons yang tidak menentu tetapi justru mampu membuat seseorang semakin sulit melepaskan diri. Karena perhatian datang secara acak, setiap pesan atau interaksi baru terasa lebih berharga sehingga seseorang cenderung bertahan meskipun hubungan tersebut tidak memberikan kepastian.
Merujuk pada Cleveland Clinic (health.clevelandclinic.org/breadcrumbing), breadcrumbing dapat berdampak pada kesehatan emosional. Korban dapat mengalami kebingungan, menurunnya rasa percaya diri, hingga merasa dirinya kurang layak dicintai. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi cara seseorang membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Mengenali tanda-tanda breadcrumbing menjadi langkah penting agar seseorang tidak terjebak dalam hubungan yang penuh ketidakpastian. Komunikasi yang sehat seharusnya dibangun atas dasar konsistensi, kejelasan, dan rasa saling menghargai, bukan sekadar perhatian yang muncul sesekali untuk mempertahankan harapan.
Oleh karena itu, memahami fenomena ini dapat membantu masyarakat, khususnya generasi muda, membangun hubungan yang lebih sehat, jujur, dan saling berkomitmen.
(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....