Kondisi SMKN 1 Gerung Memprihatinkan, Lima Kelas Terancam Ambruk

  • 25 Jun 2026 06:58 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Kondisi bangunan SMKN 1 Gerung kian memprihatinkan. Sejumlah ruang belajar mengalami kerusakan berat dan dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa. Padahal, Gubernur Nusa Tenggara Barat saat melakukan kunjungan ke sekolah tersebut pada 28 Februari 2026 telah menginstruksikan dinas terkait agar segera melakukan perbaikan. Namun hingga kini, arahan tersebut belum juga ditindaklanjuti.

Kepala SMKN 1 Gerung, Erni Zuhara, mengungkapkan keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi persoalan utama yang menghambat pemenuhan Standar Nasional Pendidikan di sekolah yang dipimpinnya.

"Kalau kita berbicara tentang pemenuhan Standar Nasional Pendidikan, sarana dan prasarana di SMKN 1 Gerung ini memang masih sangat kurang, terutama ruang kelas belajar. Saat ini kami hanya memiliki enam belas ruang kelas yang memenuhi standar nasional," ujar Erni saat ditemui RRI di SMKN 1 Gerung, Lombok Barat. Rabu 24 Juni 2026.

Menurut Erni, jumlah tersebut sangat jauh dari kebutuhan sekolah. Pada Tahun Pelajaran 2026/2027, SMKN 1 Gerung memiliki 33 rombongan belajar. Artinya, sekolah masih kekurangan 17 ruang kelas baru (RKB).

"Ruang kelas yang tersedia hanya enam belas, sementara rombongan belajar mencapai tiga puluh tiga. Otomatis kami masih kekurangan tujuh belas ruang kelas," katanya.

Persoalan tidak berhenti pada keterbatasan ruang belajar. Bangunan sekolah yang telah berdiri sekitar 22 tahun lalu kini mengalami kerusakan fisik di berbagai bagian. Bahkan, beberapa ruang kelas dinilai sudah berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

"Sebagian besar bangunan ini merupakan bangunan pertama sejak sekolah berdiri. Usianya sudah sekitar dua puluh dua tahun sehingga banyak kerusakan fisik yang cukup mengkhawatirkan, terutama dari sisi keselamatan dan keamanan peserta didik saat mengikuti proses pembelajaran," tegasnya.

Untuk mengatasi kerusakan tersebut, pihak sekolah hanya mampu melakukan pemeliharaan ringan menggunakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Namun anggaran yang tersedia dinilai sangat terbatas karena hampir seluruh bangunan membutuhkan rehabilitasi.

"Kami memang mengalokasikan dana BOS untuk pemeliharaan, tetapi kemampuannya sangat terbatas. Hampir semua ruangan membutuhkan perbaikan dengan biaya yang cukup besar, sementara dana operasional sekolah juga harus memenuhi kebutuhan lainnya," ucapnya.

Erni mengaku kekhawatiran terbesar pihak sekolah adalah potensi terjadinya insiden yang dapat membahayakan siswa apabila bangunan yang rusak tidak segera diperbaiki.

"Yang paling kami khawatirkan adalah keselamatan siswa. Kami tentu tidak ingin terjadi musibah seperti yang pernah terjadi di beberapa sekolah lain. Karena itu kami sangat berharap pemerintah segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini," katanya menegaskan.

Ia menjelaskan, usulan rehabilitasi sebenarnya bukan hal baru. Sejak tahun 2023, pihak sekolah telah berkali-kali mengajukan proposal kepada dinas terkait untuk memperoleh bantuan rehabilitasi maupun revitalisasi gedung sekolah.

"Kami sudah melaporkan kondisi fisik sekolah kepada dinas terkait sejak tahun 2023. Proposal rehabilitasi dan revitalisasi juga sudah kami ajukan, tetapi hingga sekarang tampaknya sekolah kami belum masuk dalam skala prioritas sehingga kami masih terus menunggu giliran untuk mendapatkan perbaikan," ujarnya.

Dari seluruh bangunan yang mengalami kerusakan, terdapat lima ruang kelas di sisi selatan sekolah yang masuk kategori rusak berat dan membutuhkan penanganan segera.

"Yang mengalami kerusakan paling parah ada lima ruang kelas di bagian selatan sekolah. Kondisinya memang membutuhkan perhatian secepatnya," katanya.

Sementara itu, jumlah peserta didik di SMKN 1 Gerung terus mengalami peningkatan. Pada Tahun Pelajaran 2025/2026 tercatat sebanyak 965 siswa dengan 31 rombongan belajar. Setelah menerima 11 rombongan belajar baru pada Tahun Pelajaran 2026/2027, jumlah rombongan belajar meningkat menjadi 33 dengan total sekitar 1.180 siswa.

Bertambahnya jumlah peserta didik di tengah keterbatasan ruang belajar membuat kebutuhan pembangunan ruang kelas baru dan rehabilitasi gedung semakin mendesak. Pihak sekolah berharap instruksi Gubernur NTB yang telah disampaikan saat kunjungannya beberapa waktu lalu segera direalisasikan melalui langkah konkret dari dinas terkait.

"Kami berharap ada tindak lanjut nyata sehingga anak-anak dapat belajar dengan aman, nyaman, dan memperoleh fasilitas pendidikan yang layak," katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....