Seminar Internasional Mengangkat Tema Konservasi Rumput Laut

  • 23 Jun 2026 14:45 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Sebuah seminar internasional yang bertajuk International Seminar on Marine Biodiversity, Biotechnology, and Blue Economy Collaboration berlangsung di Ruang Sidang Senat, Rektorat Universitas Mataram, pada Senin, 22 Juni 2026.

Seminar ini merupakan kolaborasi Universitas Mataram (Unram) dan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) yang kembali menegaskan perannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menjadi bagian dari inisiatif Global Seaweed PROTECT, sebuah kolaborasi internasional yang melibatkan berbagai institusi terkemuka dunia, termasuk Natural History Museum Inggris, Scottish Association for Marine Science (SAMS), dan Universiti Malaya, Malaysia.

Mengangkat tema konservasi rumput laut, keanekaragaman hayati laut, bioteknologi, dan ekonomi biru, forum ini mempertemukan para ilmuwan, peneliti, akademisi, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas peran strategis rumput laut dalam menjawab tantangan global, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, hingga pembangunan berkelanjutan.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unram, Dr. Sitti Latifah, S.Hut., M.Sc.Forest.Trop., dalam sambutannya menegaskan bahwa rumput laut tidak dapat lagi dipandang semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai sumber daya strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan sektor rumput laut memiliki keterkaitan erat dengan berbagai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menambahkan bahwa kerja sama lintas negara menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam sektor kelautan.

Seminar ini menghadirkan sejumlah pakar terkemuka dunia di bidang rumput laut dan ekosistem laut. Prof. Juliet Brodie dari Natural History Museum, Inggris, membahas implementasi aksi global untuk konservasi rumput laut melalui inisiatif Seaweed Breakthrough, sementara Prof. Elizabeth Cottier-Cook dari Scottish Association for Marine Science (SAMS) memaparkan hasil penelitian GlobalSeaweed-SUPERSTAR/PROTECT terkait pengetahuan, persepsi, dan praktik konservasi rumput laut di Indonesia dan Malaysia. Selain itu, Prof. Lim Phaik Eem dari Universiti Malaya, dan Dr. Niko Howarth dari SAMS.

Dalam sesi pengantar program, Dr. Eka S. Prasedya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri rumput laut global. Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok dan menjadi produsen utama rumput laut tropis dunia, dengan sekitar 1,2 juta rumah tangga yang menggantungkan penghidupannya di sektor ini. Besarnya potensi tersebut, menurutnya, harus diiringi dengan penguatan riset, inovasi, dan strategi konservasi yang mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.

Seminar ini merupakan bagian dari GlobalSeaweed-PROTECT, program kolaborasi internasional yang didanai oleh UK Research and Innovation (UKRI) Biotechnology and Biological Sciences Research Council (BBSRC) melalui skema Sustainable and Resilient Aquaculture Systems in Southeast Asia.

Program ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan jangka panjang masyarakat pembudidaya rumput laut di Asia Tenggara melalui penguatan industri rumput laut yang produktif, tangguh terhadap perubahan iklim, memiliki sistem biosekuriti yang kuat, serta mampu melindungi keanekaragaman rumput laut alami.

Untuk mencapai tujuan tersebut, GlobalSeaweed-PROTECT berfokus pada empat bidang utama, yaitu konservasi dan keanekaragaman hayati rumput laut, penguatan ketahanan rumput laut terhadap dampak perubahan iklim, peningkatan biosekuriti dalam sistem budidaya, serta pengembangan solusi berbasis pengetahuan lokal untuk mendukung restorasi dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Melalui pendekatan multidisiplin dan kolaboratif, program ini berupaya menjembatani sains, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat pesisir dalam menghadapi tantangan sektor kelautan di masa depan.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap kesehatan laut dan perubahan iklim, rumput laut hadir sebagai salah satu solusi berbasis alam yang mampu menjawab berbagai tantangan global sekaligus membuka peluang ekonomi yang inklusif bagi masyarakat pesisir. Lebih dari sekadar komoditas, rumput laut adalah jembatan yang menghubungkan konservasi, ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan laut yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....