Perkuat Ekonomi Desa Keseneng, Unnes Latih Branding Visual dan Inovasi Alpukat
- 21 Mei 2026 19:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang - Di tengah tantangan ekonomi pedesaan, penguatan kapasitas masyarakat berbasis potensi lokal menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tim pengabdian Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar pelatihan branding visual dan inovasi produk alpukat di Balai Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Rabu, 20 Mei 2026.
Hal itu menjadi salah satu pendekatan yang semakin relevan dalam mendorong transformasi hasil pertanian, dari sekadar komoditas mentah menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi produk dan penguatan identitas usaha. Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Unnes, Nina Farliana menuturkan, pelatihan yang didanai melalui Dana DPA 2026 dari Unnes ini melibatkan sekitar 20 anggota tim penggerak PKK Desa Keseneng.
Desa Keseneng dikenal memiliki potensi alpukat lokal yang cukup menjanjikan. Namun, seperti banyak daerah penghasil komoditas pertanian lainnya, tantangan utamanya terletak pada bagaimana meningkatkan nilai ekonomi produk agar tidak berhenti pada penjualan buah segar semata.
"Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat diajak melihat alpukat bukan hanya sebagai hasil kebun. Namun juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi aneka produk pangan kreatif dengan peluang pasar yang lebih luas," kata Nina dalam kegiatan yang juga dihadiri Kepala Desa Keseneng, Murliyah.
Menurut dia, pengolahan pangan berbasis komoditas lokal menjadi strategi yang relevan dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Khususnya bagi kelompok perempuan desa yang memiliki peran besar dalam ekonomi keluarga.
Ia berharap, kegiatan ini mampu mendorong lahirnya usaha rumah tangga baru berbasis potensi lokal alpukat di Desa Keseneng. Penguatan ekonomi masyarakat desa perlu dilakukan melalui pendekatan yang aplikatif, mudah diterapkan, dan dekat dengan keseharian warga.
Nina mengatakan, pelatihan dimulai dengan materi mengenai strategi branding visual dan praktik pembuatan logo usaha berbasis Artificial Intelligence (AI). Pada sesi ini, peserta dikenalkan pada pentingnya identitas visual dalam membangun usaha mikro.
"Produk yang baik tidak cukup hanya memiliki rasa yang lezat, tetapi juga membutuhkan citra usaha yang kuat agar mudah dikenali konsumen. Peserta diajak memahami bahwa logo bukan sekadar gambar, melainkan representasi identitas, kualitas, dan nilai sebuah usaha," ungkapnya.

Dengan memanfaatkan teknologi AI, kata dia, para ibu PKK belajar membuat desain logo sederhana namun menarik untuk produk olahan yang kelak dapat dipasarkan. Pendekatan ini menjadi penting karena perkembangan teknologi digital membuka peluang bagi pelaku usaha mikro untuk melakukan branding secara lebih murah, cepat, dan mudah diakses.
Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan tim dosen multidisiplin, yakni Kardoyo, Indri Murniawaty, Ahmad Sehabuddin, Pratama Bayu Widagdo, dan Khasan Setiaji. Mereka bersama-sama mendampingi peserta dalam sesi materi maupun praktik.
Di sisi lain, Pratama Bayu menuturkan, pada era ekonomi digital, visual menjadi bahasa pemasaran yang sangat menentukan. Konsumen kerap mengambil keputusan pembelian melalui kesan pertama pada kemasan, desain merek, maupun tampilan promosi di media sosial.
Oleh karena itu, kata dia, pelatihan branding visual tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga strategi komunikasi pemasaran yang mampu meningkatkan daya saing produk desa. Setelah sesi branding, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pengolahan alpukat menjadi berbagai produk inovatif.
Menurutnya, peserta juga secara langsung mempraktikkan pembuatan avocado toast, puding sutra alpukat, avocado sago, serta brownies alpukat. Selain mudah dibuat, produk-produk tersebut memiliki potensi pasar yang luas karena mengikuti tren konsumsi pangan sehat sekaligus dapat diproduksi dalam skala rumah tangga.

Pembuatan avocado toast, misalnya, memperlihatkan bagaimana bahan lokal dapat diadaptasi menjadi sajian modern yang dekat dengan selera generasi muda. Di sisi lain, puding sutra alpukat dan avocado sago menawarkan alternatif makanan penutup yang menarik dengan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan menjual buah segar.
Sementara brownies alpukat menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat diolah menjadi produk kreatif yang memiliki peluang usaha cukup besar. Lebih dari sekadar pelatihan memasak, kegiatan ini memiliki makna pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Indri Murniawaty menjelaskan, ketika ibu-ibu PKK memperoleh keterampilan mengolah produk sekaligus memahami strategi branding visual, mereka sedang membangun modal ekonomi baru berupa keterampilan produksi, kreativitas, dan kemampuan pemasaran. Sinergi antara inovasi produk dan branding visual merupakan kombinasi penting dalam pengembangan usaha mikro berbasis desa.
Pihaknya mengatakan, produk inovatif tanpa identitas merek akan sulit dikenal, sementara branding yang baik tanpa kualitas produk tidak akan bertahan lama di pasar. Karena itu, kedua aspek tersebut perlu berjalan beriringan.
"Pada akhirnya, pengembangan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Terkadang, perubahan dapat berangkat dari dapur rumah tangga, kreativitas sederhana, dan keberanian memberi identitas pada produk lokal," jelasnya.
Ketika alpukat tidak lagi hanya dijual sebagai buah, melainkan hadir dalam bentuk olahan inovatif dengan kemasan dan branding yang menarik, kata dia, di sanalah nilai tambah tercipta. Desa bukan sekadar produsen bahan mentah, tetapi juga ruang tumbuh bagi kreativitas ekonomi masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....