Gandeng BPBD-BMKG, UNNES Perkuat Pengurus Destana Desa Kemambang dan Wirogomo

  • 15 Jul 2026 09:44 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang - Pengurus Desa Tangguh Bencana (Destana) Kemambang dan Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang beserta anggota Linmas desa setempat dibekali ilmu untuk meningkatkan penanggulangan bencana. Penguatan kapasitas kader dan dokumen Destana dua desa ini dilakukan agar mereka tangguh dan siap mengambil langkah manakala terjadi bencana, terutama tanah longsor yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

Kegiatan yang digelar tim pengabdian dari Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNNES di Balai Desa Kemambang, Selasa-Rabu (14-15/7/2026), didukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meterorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng. Ketua Tim Pengabdian Fakultas MIPA UNNES Dr Khumaedi MSi mengatakan, kegiatan pengabdian tahap kedua ini untuk penguatan pengurus Destana Kemambang, agar mereka jadi kader tangguh yang siap menghadapi bencana.

"Kami juga menghadirkan narasumber dari BPBD Kabupaten Semarang yang memberi materi penguatan Destana. Dari BMKG memberikan analisis cuaca ekstrem yang potensi menimbulkan bencana yang rawan terjadi di desa ini," katanya.

Tim pengabdian ini juga melibatkan dosen Fakultas MIPA UNNES selaku anggotanya yaitu Prof Dr Supriyadi, Prof Dr Mahardika Prasetya Aji, dan Dr Upik Nurbaiti. Ikut dilibatkan empat mahasiswa, Nisfa Mufatihah, Sri Endah Ardhi Ningrum Abdullah, Fatmawati, dan Mochamad Hilmi Bilqi.

Supriyadi menuturkan, pengingkatan kapasitas penanggulangan bencana ini dilakukan selama dua hari. Selain pemberian materi dari BPBD dan BMKG, pada hari pertama juga diadakan diskusi matrik antarpeserta, dan pembuatan peta rawan bencana Desa Kemambang dan Wirogomo.

"Ini untuk memperkuat apa yang selama ini sudah dikerjakan pengurus Destana Kemambang, kami juga menandatangani kerja sama dengan BPBD dan Desa Kemambang terkait program yang dilakukan kedepannya," ungkapnya. Adapun, hari keduanya akan diadakan simulasi penanggulangan kebakaran, dengan dipandu tim BPBD Kabupaten Semarang.

Sri Endah yang juga pegawai Bagian Data dan Informasi BMKG Jateng mengungkapkan, Desa Kemambang dan Wirogomo ini masuk kategori rawan bencana, khususnya tanah longsor. Bencana ini biasa terjadi saat cuaca ekstrem, di mana terjadi fenomena alam ditandai oleh kondisi curah hujan, arah dan kecepatan angin, suhu dan kelembaban udara, serta jarak pandang.

"Cuaca ekstrem ini bisa mengancam keselamatan jiwa dan harta seseorang, jadi perlu diketahui juga karakteristiknya. Seperti hujan ekstrem ini punya intensitas paling rendah 150 milimeter/ 24 jam, gelombang laut ekstrem dengan ketinggian lebih atau sama dengan 6 meter, serta suhu udara mencapai 3 derajat Celsius," ungkapnya.

Menurut dia, cuaca ekstrem ini juga berpotensi menimbulkan angin puting beliung. Di mana, terjadi angin kencang berputar yang keluar dari awan kumulonimbus dengan kecepatan lebih dari 34,8 knot atau 64,4km/jam.

Dalam kesempatan itu, pihaknya juga menyosialisasikan aplikasi Info BMKG, dan laman media sosial badan meteorologi tersebut. Platform resmi BMKG ini manfaatnya bisa digunakan memantai prakiraan cuaca akurat hingga tingkat kecamatan, serta ada peringatan dini bencana gempa bumi dan potensi tsunami secara real time," ujarnya.

Selain itu juga bisa digunakan untuk melihat informasi kualitas udara, cuaca maritim, dan iklim untuk mendukung aktivitas harian. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan Tribiantoro SSTP MM mengajak peserta mengikuti peningkatan kapasitas yang difasilitasi tim pengabdi Unnes.

"Tahun 2025, kami juga datang untuk penguatan pondasi awal peningkatan penanggulangan bencana, sekarang kembali untuk menguatkan pengetahuan dan keterampilannya lagi. Tadi ada kegiatan gambar peta, diskusi itu tujuannya untuk mencari data yang akan digunakan masyarakat mana titik rawan dan apa risikonya, sehingga nantinya bisa disusun rencana penanggulangannya," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kemambang, Heru Susanto SE mengatakan, pentingnya kegiatan peningkatan kapasitas pengurus Destana dan Linmas wilayahnya. "Ini supaya mereka cepat bereaksi manakala ada kejadian, karena kalau tidak terus diberi penguatan serasa di-ninabobokkan saat ada musibah, menganggap biasa, padahal membahayakan," jelasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....