Ibadah Haji Butuhkan Soliditas dan Solidaritas serta Hati Bersih
- 02 Jul 2026 15:11 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Wapemred RRI Mataram (Nasrudin Zein) Kembali melanjutkan tulisan pengalaman spiritual selama melaksanakan ibadah Haji 2026. Ini merupakan tulisan ketiga setelah dua tulisan sebelumnya sudah dimuat di rri.co.id, dari pengalaman ritual haji dan berbagai kisah inspiratif lainnya yang dapat menjadi referensi bagi Calon Jemaah Haji dimasa datang. Wartawan Senior Nasrudin Zein akan menuliskannya secara berseri. Selamat Membaca
Setelah tiba dengan selamat di Tanah Madinah Al Munwarah, dari penerbangan 10 jam diberangkatkan dari Embarkasi Lombok, setelah bongkar muat dan penganaran menuju penginapan Jemaah Haji menempati kamar yang sudah disiapkan Panitia Ibadah Haji Kemenhaj dan Umroh RI.
Per kamar ditempati empat sampai lima orang Jemaah, semusnya sudah terdaftar Namanya sesuai dengan daftar yang dikirimdari NTB. Satu Kamar dirasakan cukup, ada tempat diur (masing masing) dan sela sela antar satu dipan ditaruh koper masing masing jamaah, sama dengan jamaah haji perempuan. Walaupun hanya satu kamar mandi yang tersedia, tapi dapat melayni penghuni dengan catatan saling membagi waktu mandi dan mencuci.
Kita harus dapat membagi waktu untuk mandi dan berwudhu, tanpa mengganggu Kawan se kamar yang memiliki kepentingan sama seperti mandi dan mencuci pakaian. Kita tidak boleh memperlihatkan sikap egois, menang sendiri, tetapi yang dikedepankan adalah sikap tenggang rasa, toleransi dan saling berbagi. Saling memberi untuk kesuksesan beribadah, terutama dalam memenuhi Waktu Sholat Wajib 40 Waktu (Arbain). Tidak ada Pejabat, Tidak ada Anak Pejabat,Guru, Dosen, Pengusaha , Orang Kaya dan Orang Miskin serta Profesi apapun. Semuanya Setara, tidak ada yang lebih tinggi, sama rata, Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, kecuali yng membedakan Adalah Taqwa disisi Allah SWT.
“Jadi kita harus memiliki sikap dan prilaku solidaritas dan soliditas antar sesama Jamaah Haji ,kita tidak boleh egois dalam menggunakan Kamar Mandi dan berkomitmen menjaga kebersihan Kamar, dari bekas makan” kata H.Harjono sebagai harapan kepada sesame anggota.
Sebagian besar anggotanya Adalah lansia, usia diatas 74 tahun, bahkan ada juga yang sakit gula maupun sakit penyerta lainnya, hanya Ketua Regu yang masih muda usia 40 tahunan. Sesama anggota dalam satu kamar, secara terbuka, terlihat sikap solidaritas dan soliditas dengan komunikasi yang terjalin diantara mereka.
“Saya duluan mandi, karena mau ke Masjid Nabawi untuk sholat Dzuhur” Kata H.Muhmmad Umar,SH,MH yang tidak pernah absen mendirikan sholat lima waktu sebagai ikhtiar memenuhi Sholat 40 Waktu ( Arbain).
Kendati Cuaca sudah mencapai 42 – sampai 43, Haji Muhammad Umma,SH,MH tetap jalan menuju Masjidil Nabawi guna mendirikan Sholat Wajib Lima Waktu. Perjalanan dari hotel menuju Masjid Nabawi sekitar 800 meter,
“Jaraknya sekitar 800 meter, sudah kami hitung digital” kata Harjono memberikan penjelasan kepada sesame jamaah.
HM.Ummar senantiasa berjalan menyusuri pinggir Gedung menjulang tinggi, Hotel Hotel yang dihuni Jemaah Haji dari berbagai Negara di dunia, agar tidak terkena terpaan sinar matahari diseputaran tanah harrom dengan suhu panas 40 derajat Celcius. Inilah yang dicatat sebagai salah satu factor yang dapat mempengaruhi fisik dan membuat tubuh menjadi terkuras kondisinya sehingga mudah terserang Flu,pilek, demam dan sakit kepala.Tidak sedikit yang terkenan penyakit terutama di kalangan Jemaah haji asal Indonesia.
“Apa Rahasianya Pak H.Muhammad Umar, tetap sehat dan dapat memenuhi 40 Waktu Sholat Arbain” kata Kawan bertanya. “Saya sudah terbiasa dengan panas seperti ini di Bima, disamping setiap hari sholat diawal waktu selalu dilaksanakan di Kampung selalu terkena sinar matahari kecuali kalau hujan, kebiasaan ini sudah berlangsung 10 tahun selain tetap berdoa kepada Allah SWT, supaya terus diberikan Kesehatan,” kata H.Muhammad Ummar,SH,MH jamaah haji dari Gerisak Aman yang sudah lama menetap di Mataram Lombok.
Tidak saja Sosok H.Muhammad Umar, banyak juga jamaah lain dari Daerah lain, Provinsi lain di tanah air dan bahkan Negara lain yang fisiknya sama dengan Beliau, disamping factor fisik yang prima, kebaikan dan kebiaasaan beribadah diawal waktu, juga Sikap Istiqomah yang tinggi, hati yang tulus dan Ikhlas, serta kebaikan yang banyak dilaksanakan di tanah air, dan berserah diri kepada Allah juga dinilai oleh Ulama sebagai pendorong motivasi yang kuat, sehingga tetap bugar dan prima dalam beribadah dengan baik di tanah suci.
| Baca juga: Jamaah Haji Sumbawa Tiba 19 Juni |
Sholat di Masjidil Nabawi, terasa sangat damai, aman, tentram, bathin terasa sejuk, merasakan pikiran, konsentrasi dan perasaan sangat dekat dengan Sang Khaliq. Apalagi bagi Jamaah yang Maqom bathinnya lebih tinggi karena kekhusuqan, InsyaAllah sholat menjadi sangat nikmat. Nikmat yang sangat luar Biasa. Tingkat keteguhan, kekuatan hati dan kehebatan seseorang, puncaknya Adalah Menangis. Dalam sebuah Firman Allah SWT “Aku lebih dekat dengan Urat Nadimu” ujar DR. TGH. Hasanain Pembimbing Ibadah Haji. Berikhitarlah bagi Jamaah yang belum menaruh niat guna segera berhaji. Ikhitar sungguh sungguh mendaftkan haji sejak dini, diharapkan jangan sampai menunaikan haji Ketika usia sudah lansia, karena menambah pekerjaan jamaah yang lain.
“Pak Haji dari Mana” tanya Haji Ismail Jamaah dari Kekalek Jaya Lombok Mataram NTB “ Saya dari Aceh Nanggro Aceh Darussalam, tetapi tinggal di Banten, Mengaji di Ulama Banten” ujarnya menjawab seraya berdiskusi ringan tentang Masjid Nabawi.
“Jamaah selalu merebut Lokasi yang tiangnya dikelilingi kaligrafi Al Quran karena itulah batas Asli Masjid Nabawi Ketika Rasulullah menjadi Imam di Masjid Nabawi,” ujar Jamaah dari Aceh ini memberikan penjelasan, dan memang ternyata Lokasi tersebut menjadi rebutan karena tidak diatur oleh laskar, bagi siapa saja boleh sholat di sekitar lingkaran tiang yang berbaris lurus dari Selatan, Timur dan Utara, kecuali yang diatur Adalah sholat di Raodah. Rahasianya Adalah tiga atau dua jam sebelum waktu sholat wajib datang, kita sudh berada dilokasi dan dapat menempati serta memilih Lokasi tersebut.
“Raodah dengan tempat tinggalku adalah taman taman Surga” ujar hadits yang sering disampaikan Ulama. Masuk ke Raodah sangat diatur ketat oleh Petugas keamanan Masjidil Nabawi. { Bersambung)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....