Mengapa Nongkrong Jadi Kebutuhan Anak Muda

  • 15 Jul 2026 21:44 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID Biak – Nongkrong bukan lagi sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Bagi banyak anak muda, berkumpul bersama teman di kafe, taman, ruang publik, atau warung kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus kebutuhan sosial di tengah rutinitas yang semakin padat.

Fenomena ini terlihat hampir setiap sore hingga malam hari. Berbagai tempat makan, kedai kopi, hingga ruang terbuka dipenuhi anak muda yang menghabiskan waktu untuk berbincang, mengerjakan tugas kuliah, berdiskusi, atau sekadar menikmati suasana bersama teman.

Di kutip dari good news froom Indonesia, Psikolog sosial, Dr. Rina Wahyuni, menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk membangun hubungan sosial. Aktivitas nongkrong menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan tersebut.

"Anak muda berada pada fase kehidupan ketika hubungan pertemanan memiliki peran yang sangat penting. Melalui aktivitas nongkrong, mereka membangun identitas diri, memperluas jaringan sosial, sekaligus memperoleh dukungan emosional dari lingkungan pertemanannya," ujarnya.

Menurutnya, di tengah meningkatnya penggunaan media sosial, interaksi secara langsung tetap memiliki nilai yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh komunikasi digital.

Selain menjadi sarana bersosialisasi, nongkrong juga sering dimanfaatkan sebagai ruang produktif. Banyak mahasiswa memilih mengerjakan tugas kelompok di kedai kopi karena suasana yang dinilai lebih nyaman dan mendukung diskusi dibandingkan di rumah.

Mahasiswa Universitas Papua, Rizky Saputra, mengaku aktivitas nongkrong tidak selalu identik dengan menghabiskan uang atau waktu tanpa tujuan.

"Kalau lagi ada tugas kelompok, kami biasanya ketemu di kafe atau warung kopi. Suasananya lebih santai, ide-ide juga lebih mudah muncul. Kadang setelah tugas selesai, baru kami ngobrol santai," katanya.

Fenomena menjamurnya kedai kopi dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi faktor yang mendorong budaya nongkrong semakin berkembang. Banyak pelaku usaha menghadirkan konsep tempat yang nyaman dengan akses internet, colokan listrik, hingga ruang diskusi untuk menarik minat anak muda.

Pengamat budaya populer, Dr. Andi Pratama, menilai perubahan pola nongkrong dipengaruhi oleh perkembangan gaya hidup masyarakat perkotaan.

"Dulu nongkrong identik dengan duduk di teras rumah atau warung sederhana. Sekarang ruang berkumpul semakin beragam. Kafe bukan hanya tempat membeli makanan atau minuman, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat orang bertemu, bekerja, bahkan membangun relasi bisnis," jelasnya.

Meski memiliki banyak manfaat, para ahli mengingatkan agar budaya nongkrong tetap dilakukan secara bijak. Pengeluaran yang berlebihan hanya demi mengikuti tren atau tekanan lingkungan dapat berdampak pada kondisi keuangan, terutama bagi pelajar dan mahasiswa.

Psikolog menyarankan agar anak muda memilih tempat nongkrong sesuai kemampuan finansial dan menjadikan aktivitas tersebut sebagai sarana membangun hubungan yang positif, bukan sekadar mengikuti gaya hidup.

Di sisi lain, keberadaan ruang publik yang aman, nyaman, dan mudah diakses juga dinilai penting agar anak muda memiliki alternatif tempat berkumpul tanpa harus selalu mengeluarkan biaya.

Pada akhirnya, nongkrong bukan hanya tentang menikmati secangkir kopi atau bersantai bersama teman. Aktivitas ini telah berkembang menjadi bagian dari cara anak muda membangun jejaring sosial, bertukar ide, menjaga kesehatan mental, hingga menciptakan peluang kolaborasi. Selama dilakukan secara seimbang dan bertanggung jawab, nongkrong dapat menjadi aktivitas yang memberi manfaat, baik bagi individu maupun komunitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....