Representasi “Monstrous Feminine” dalam Film Horror
- 14 Jul 2026 12:45 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon- Film horor selama ini identik dengan sosok perempuan yang berteriak, menjadi korban, atau menunggu diselamatkan. Namun, seiring berkembangnya industri perfilman, representasi perempuan dalam genre horor mulai mengalami perubahan. Kini, perempuan tidak hanya menjadi korban, tetapi juga hadir sebagai sosok yang mengendalikan cerita, bahkan menjadi sumber teror itu sendiri.
Merujuk pada pemikiran akademisi film Barbara Creed dalam bukunya The Monstrous-Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis (1993), perempuan dalam film horor kerap diposisikan sebagai sosok yang menakutkan bukan hanya karena tindakannya, tetapi karena identitas, tubuh, dan perannya dianggap mengganggu tatanan sosial yang telah dibangun.
Konsep monstrous feminine menjelaskan bahwa ketakutan terhadap perempuan dalam film sering kali lahir dari konstruksi budaya, bukan semata-mata karena keberadaan "monster" itu sendiri. Representasi tersebut dapat ditemukan dalam berbagai karakter, mulai dari ibu yang posesif, penyihir, perempuan pendendam, hingga sosok yang dianggap memiliki kekuatan di luar kendali.
Karakter-karakter ini bukan sekadar antagonis, melainkan simbol dari kecemasan masyarakat terhadap perempuan yang keluar dari norma atau peran tradisional yang selama ini dilekatkan kepada mereka.
Melansir dari British Film Institute (BFI) dalam artikel The Monstrous-Feminine on Screen: The Changing Face of Cinema's Female Monsters (bfi.org.uk/features/monstrous-feminine-female-monsters), representasi perempuan sebagai "monster" terus mengalami perubahan mengikuti dinamika sosial.
Jika pada film-film awal perempuan sering digambarkan sebagai sosok berbahaya karena tubuh dan seksualitasnya, film horor kontemporer justru menghadirkan karakter perempuan yang lebih kompleks. Kemarahan, trauma, identitas, hingga hasrat untuk melawan sistem patriarki menjadi bagian dari narasi, sehingga sosok monster perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek ketakutan, melainkan cerminan perubahan cara masyarakat memandang perempuan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa film horor tidak hanya menawarkan sensasi menegangkan, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca isu-isu sosial melalui budaya populer. Penonton diajak melihat bahwa sosok "monster" bisa menjadi metafora atas pengalaman perempuan yang selama ini dibungkam atau disalahpahami.
Karena itu, di balik adegan yang mencekam, film horor menyimpan lapisan makna yang lebih kompleks. Ketakutan yang ditampilkan di layar bukan hanya berasal dari makhluk menyeramkan, tetapi juga dari cara masyarakat memandang perempuan yang berani melampaui batas-batas yang dianggap wajar.
Di sinilah genre horor menjadi medium refleksi, mengajak penonton mempertanyakan kembali apakah yang sebenarnya ditakuti adalah sang monster, atau perempuan yang memilih untuk tidak lagi tunduk pada ekspektasi sosial.
(Sumber: SalshaKhoerunisa_TelkomUniversityBandung)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....