Thee Sacred Souls Debut di Jakarta

  • 03 Mei 2026 05:25 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Thee Sacred Souls akhirnya membawa musik mereka ke Indonesia lewat panggung Java Jazz Festival 2026. Ini bukan sekadar jadwal tur. Ini momen perkenalan langsung dengan pasar Asia. Mereka membuka langkah ini dengan merilis single Any Old Fool. Lagu ini bukan materi baru dari nol. Ini track yang sebelumnya belum dirilis dari sesi album Got a Story to Tell. Strategi ini umum dalam industri rekaman. Dikutip dari praktik rilisan katalog di Billboard, lagu unreleased sering dipakai untuk menjaga momentum tanpa harus memulai siklus album baru.

Karakter musik mereka tetap konsisten. Vokal Josh Lane jadi pusat. Lembut, dekat, dan tidak berlebihan. Dua personel lain, Alejandro Garcia dan Salvador Samano, membangun fondasi groove yang rapi. Mereka tidak mencoba terdengar modern secara agresif. Mereka justru menarik referensi lama ke konteks sekarang. Dalam wawancara yang dikutip dari kanal resmi Daptone Records, pendekatan seperti ini memang jadi ciri khas scene soul revival. Fokusnya bukan inovasi ekstrem. Tapi presisi rasa dan produksi.

Album Got a Story to Tell yang dirilis Oktober 2024 memperjelas arah itu. Referensi mereka luas. Arthur Verocai, The Delfonics, dan Mary Wells disebut sebagai inspirasi. Ini kombinasi yang tidak umum. Brasil, Philadelphia soul, dan Motown. Tapi hasilnya tetap kohesif. Tema lagunya juga tidak dibuat rumit. Relasi, perjalanan karier, dan emosi personal. Pendekatan ini sesuai dengan tren yang dibahas dalam riset Popular Music Studies, di mana pendengar saat ini lebih responsif pada kejujuran emosi dibanding kompleksitas teknis.

Data streaming mereka juga memberi konteks. Lagu Can I Call You Rose dan Will I See You Again mendorong angka jutaan pendengar bulanan. Ini bukan angka kecil untuk band soul independen. Namun kamu perlu hati hati membaca data ini. Popularitas digital tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman fanbase. Tur Asia mereka, termasuk Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Cina, jadi ujian nyata. Apakah audiens akan hadir secara fisik. Penampilan di Jakarta pada 29 Mei akan jadi indikator awal. Jika responsnya kuat, ini bukan sekadar hype digital. Ini validasi bahwa soul klasik masih punya tempat di pasar live saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....