Penangkapan Mehdi Mahmoudian Pasca Cannes
- 18 Feb 2026 22:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Nama Mehdi Mahmoudian kembali menjadi sorotan setelah ia dilaporkan ditangkap otoritas Iran pada 31 Januari, hanya beberapa bulan setelah film yang ia tulis bersama meraih Palme d’Or di Festival Film Cannes pada Mei 2025. Film tersebut, It Was Just an Accident, disutradarai oleh Jafar Panahi dan mendapat pengakuan internasional sebagai karya yang berani dan reflektif terhadap realitas sosial. Penangkapan Mahmoudian terjadi sehari setelah ia menandatangani petisi yang memuat pernyataan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran bertanggung jawab atas kondisi represif di negara itu. Petisi tersebut juga ditandatangani sejumlah figur publik, termasuk Mohammad Rasoulof dan peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi.
Bagi yang mengikuti rekam jejaknya, ini bukan pertama kali Mahmoudian berhadapan dengan aparat. Ia dikenal sebagai jurnalis investigatif dan aktivis hak asasi manusia. Pada 2009, ia ditahan setelah mengungkap kekerasan terhadap tahanan di pusat detensi Kahrizak, kasus yang saat itu juga disorot oleh Human Rights Watch dalam laporannya tentang pelanggaran serius terhadap demonstran pasca pemilu Iran. Amnesty International dalam sejumlah pernyataannya juga mencatat pola kriminalisasi terhadap pembela HAM di Iran, termasuk penggunaan dakwaan keamanan nasional untuk membungkam kritik. Pada Desember 2020, Mahmoudian kembali menjadi perhatian setelah menulis di media sosial mengenai praktik interogasi terhadap jurnalis oleh IRGC.
Rekan kerjanya, Jafar Panahi, yang sendiri pernah dipenjara dan dicekal membuat film oleh pemerintah Iran, menyampaikan solidaritas terbuka. Dalam pernyataan yang beredar di kalangan sineas internasional, Panahi menyebut Mahmoudian sebagai saksi moral yang kehadirannya terasa bahkan ketika ia dibungkam. Kasus ini memperkuat pola yang selama bertahun tahun terdokumentasi oleh organisasi seperti Reporters Without Borders, yang secara konsisten menempatkan Iran pada peringkat rendah dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia. Data mereka menunjukkan pembatasan sistematis terhadap jurnalis, pembuat film, dan aktivis yang menyuarakan kritik terhadap negara.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang relasi antara seni, kritik, dan kekuasaan. Ketika film bisa mendapat penghargaan tertinggi di panggung global, tetapi penulisnya justru ditangkap di dalam negeri, ada kontradiksi yang sulit diabaikan. Penangkapan Mahmoudian memperlihatkan bagaimana ekspresi politik dan kebebasan berekspresi tetap menjadi wilayah rawan di banyak negara. Kamu bisa melihatnya bukan hanya sebagai isu Iran, tetapi sebagai pengingat bahwa ruang kritik selalu membutuhkan perlindungan hukum dan solidaritas publik agar tidak mudah dipersempit oleh kekuasaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....