Di Balik Kampung Tanpa Siang Jakarta
- 20 Jul 2026 09:32 WIB
- Jakarta
DI balik deretan gedung tinggi dan kawasan bisnis yang terus menjulang di Jakarta, masih ada permukiman yang nyaris tak pernah merasakan terang matahari. Di Kampung Bandan, Jakarta Utara, cahaya siang tergantikan lampu yang menyala sepanjang hari karena rapatnya bangunan dan sempitnya gang permukiman.
Fenomena yang belakangan dikenal sebagai "kampung tanpa siang" bukan sekadar potret unik yang viral di media sosial. Di balik gelapnya lorong-lorong sempit, tersimpan cerita tentang keterbatasan ruang hidup, mahalnya biaya bertahan di ibu kota, hingga perubahan wajah Jakarta yang terus menekan ruang tinggal warga lama.
Bagi Rudi (58), gelap bukan lagi persoalan malam dan siang. Sejak lahir di Kampung Bandan, ia menyaksikan sendiri bagaimana kawasan yang dahulu memiliki ruang terbuka perlahan berubah menjadi kawasan komersial yang padat.
Rumah masa kecilnya di RW 07 kini telah berganti menjadi kawasan pertokoan dan gedung perkantoran. Penggusuran yang berlangsung sejak dekade 1990-an memaksa keluarganya berpindah ke rumah kerabat yang berdiri di sela-sela permukiman yang semakin sesak.
Kini Rudi tinggal bersama istri dan anaknya di ruangan berukuran sekitar tiga kali tiga meter. Seluruh aktivitas keluarga berlangsung di ruangan yang sama, sementara kebutuhan mandi dan mencuci harus dilakukan di fasilitas MCK umum kampung.
Kondisi tersebut membuat cahaya matahari hampir tidak pernah masuk ke dalam rumah. Dinding rumah tetangga yang saling berhimpitan membentuk lorong sempit sehingga sinar matahari tertutup sepanjang hari.
"Memang sudah semakin padat begini. Kalau enggak dinyalain lampu, memang gelap. Jadi lampu di rumah menyala 24 jam," ujar Rudi kepada RRI Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.
Lampu yang terus menyala memang membantu penerangan, tetapi menghadirkan konsekuensi lain berupa tambahan biaya listrik. Meski demikian, pilihan itu menjadi kebutuhan karena tanpa lampu aktivitas sehari-hari hampir tidak dapat dilakukan.
Fenomena minimnya cahaya matahari bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi warga. Setiap musim hujan datang, banjir rutin menggenangi rumah-rumah di kawasan tersebut.
Air dapat mencapai setinggi lutut orang dewasa. Ketika banjir datang, Rudi tidak memilih mengungsi, melainkan menyelamatkan kasur dan barang berharga dengan meletakkannya di bagian atas rumah agar tidak terendam.
"Kalau banjir biasanya kasur dinaikkan ke atas. Kadang kami pindah sebentar ke ruko yang lebih tinggi sampai air surut," ucapnya.
Jakarta yang Tumbuh, Kampung yang Menyempit
Pertumbuhan Jakarta selama puluhan tahun membawa investasi, pusat perdagangan, serta kawasan bisnis baru. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga menyisakan kampung-kampung yang semakin terdesak oleh pembangunan.
Lahan yang terbatas membuat rumah-rumah berdiri semakin rapat. Ruang terbuka nyaris hilang, sirkulasi udara berkurang, dan akses cahaya matahari ikut tertutup.
Fenomena "kampung tanpa siang" memperlihatkan bahwa persoalan permukiman padat tidak hanya berkaitan dengan kepadatan penduduk. Kualitas hunian juga dipengaruhi oleh pencahayaan alami, ventilasi, sanitasi, hingga ruang publik yang semakin terbatas.
Bagi sebagian warga, meninggalkan kampung bukan pilihan yang mudah. Harga tanah dan rumah di Jakarta yang terus meningkat membuat banyak keluarga memilih bertahan meski harus hidup dalam ruang yang sangat sempit.
"Di sini memang sudah dari lahir. Mau pindah juga biayanya besar. Jadi ya bertahan saja," kata Rudi.
Viral, tetapi Sudah Lama Terjadi
Video mengenai kampung yang tetap gelap pada siang hari sempat menarik perhatian publik di media sosial. Banyak warganet menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Namun bagi warga Kampung Bandan, keadaan itu bukan fenomena baru. Mereka telah menjalani kehidupan tanpa cahaya matahari langsung selama bertahun-tahun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....