Hutan Kota Jadi 'Surga Kecil' di tengah Debu Rorotan

  • 11 Jul 2026 13:46 WIB
  •  Jakarta

NAMANYA Nisa, usianya 13 tahun. Di sampingnya berdiri sang kakak, Naswa, 16 tahun, dua remaja yang lahir dan tumbuh di Sarang Bango, Rorotan, Jakarta Utara.

Siang itu mereka memandang hamparan pepohonan yang baru pertama kali mereka datangi. Di hadapan mereka berdiri Hutan Kota Rorotan, ruang hijau yang selama bertahun-tahun tak pernah mereka bayangkan hadir di lingkungan yang lebih akrab dengan debu jalanan dibanding rindangnya pepohonan.

"Hidden gem," ujar Nisa sambil tersenyum kepada RRI Jakarta. Kalimatnya singkat, tetapi menggambarkan rasa tak percaya ketika menemukan ruang hijau di dekat rumahnya sendiri.

Mengapa Penemuan Ini Terasa Istimewa?

Bagi sebagian warga Jakarta, taman kota mungkin bukan sesuatu yang langka. Namun bagi warga Rorotan, menemukan ruang hijau di tengah kawasan yang setiap hari dilintasi kendaraan berat memiliki makna yang berbeda.

Kabar mengenai hutan kota itu bahkan bukan pertama kali mereka dengar dari media sosial ataupun pengumuman pemerintah. Informasi tersebut datang dari percakapan sederhana antarteman.

"Awalnya tahu dari temen. Pas sampai sini kayak speechless gitu. Wah, beneran ada. Aku kira dibohongin, di-prank, ternyata bener ada," kata Nisa.

Reaksi itu menunjukkan bahwa keberadaan ruang hijau tersebut masih terasa seperti sebuah penemuan bagi warga sekitar. Tidak sedikit yang sebelumnya mengira kawasan itu hanya kabar yang beredar dari mulut ke mulut.

Seperti Apa Wajah Rorotan Selama Ini?

Nama Rorotan selama ini lebih sering dikaitkan dengan kawasan logistik Jakarta Utara. Truk-truk kontainer keluar masuk hampir sepanjang hari, menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri dan pergudangan.

Lalu lintas kendaraan berat itu ikut membentuk keseharian warga. Debu jalan, kebisingan mesin, hingga asap kendaraan menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Di tengah kondisi tersebut, kehadiran pepohonan menghadirkan pengalaman yang berbeda.

"Seneng banget. Asri banget. Kayak napas gitu, bisa napas. Nggak kontainer lagi asapnya. Nggak selalu kontainer lagi," ujar Nisa.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan bagaimana kualitas lingkungan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat tanpa harus dijelaskan melalui angka statistik.

Mengapa Ruang Hijau Penting Bagi Anak-anak?

Bagi Nisa dan Naswa, Hutan Kota Rorotan bukan sekadar lokasi untuk berfoto. Tempat itu menjadi ruang untuk berjalan santai, duduk, bercengkerama, sekaligus menikmati suasana yang berbeda dari lingkungan tempat mereka tinggal setiap hari.

Naswa mengaku mulai rutin datang setiap kali memiliki waktu luang.

"Seneng, lah. Apalagi kan dulu kayak sawah, sekarang banyak gedung. Jadi seneng ada tempat kayak gini. Jadi sering ke sini," ucapnya.

Ucapan itu memperlihatkan bagaimana perubahan wajah kota juga memengaruhi ruang hidup generasi muda. Ketika lahan terbuka semakin berkurang, keberadaan taman menjadi ruang alternatif yang semakin bernilai.

Mengapa Mereka Tidak Datang Setiap Hari?

Meski jaraknya dekat dari rumah, keduanya tidak selalu memiliki kesempatan menikmati hutan kota tersebut.

"Kalau lagi libur aja," kata Naswa.

Hari sekolah membuat waktu bermain mereka terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memang tersedia, tetapi pemanfaatannya masih dipengaruhi aktivitas sehari-hari masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah.

Ke depan, ruang publik semacam ini dapat menjadi lokasi berbagai kegiatan edukasi lingkungan, olahraga ringan, hingga aktivitas komunitas sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan pada akhir pekan.

Apa yang Masih Perlu Dibenahi?

Bagi Nisa dan Naswa, Hutan Kota Rorotan sudah memberikan perubahan besar. Namun keduanya berharap kawasan itu terus disempurnakan.

"Jalannya diperbaiki. Karena serem, kanan kirinya belum ada pagernya," ujar Nisa.

Harapan tersebut bukan semata soal estetika. Mereka memikirkan keselamatan anak-anak yang bermain di sekitar jalur pejalan kaki.

Sejauh ini mereka belum pernah melihat kejadian yang membahayakan. Namun menurut keduanya, fasilitas keselamatan tetap diperlukan agar seluruh pengunjung merasa lebih tenang saat menikmati kawasan tersebut.

Lebih dari Sekadar Taman

Di banyak kota besar dunia, ruang hijau dipandang sebagai infrastruktur yang sama pentingnya dengan jalan raya atau jaringan transportasi. Taman bukan hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menyediakan ruang sosial, memperbaiki kualitas udara, serta menjadi tempat masyarakat berinteraksi.

Hutan Kota Rorotan mulai memainkan fungsi tersebut bagi warga sekitar. Tempat yang sebelumnya identik dengan kendaraan berat kini memiliki sudut yang menghadirkan keteduhan.

Bagi Nisa dan Naswa, hutan kota ini mungkin belum sempurna. Bangkunya belum banyak, fasilitasnya masih berkembang, dan beberapa titik masih membutuhkan penyempurnaan.

Namun di balik segala keterbatasannya, tempat itu sudah memberi sesuatu yang selama ini sulit mereka temukan di lingkungan tempat tinggalnya: kesempatan untuk berhenti sejenak, menghirup udara lebih segar, dan menikmati suasana yang tidak dipenuhi suara rem truk maupun debu jalanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....