Kemendagri dan Penonton Terhipnotis Penampilan 3.900 Penari Festival Fulan Fehan

  • 28 Jun 2026 14:47 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Ribuan penonton dari dari pulau Timor memadati kawasan savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu menyaksikan penampilan indah 3.900 penari dari Kabupaten Belu hingga Timor Leste yang tampil memukau dalam puncak Festival Fulan Fehan IV pada Sabtu 27 Juni 2026.

Pertunjukan kolosal tersebut berhasil menyihir ribuan penonton yang memadati lokasi festival. Harmoni gerak para penari yang berpadu dengan musik tradisional menghadirkan suasana magis di tengah bentang alam savana yang luas, indah dan mempesona.

Festival yang mengusung tema “Dance for Friendship” ini memang dirancang sebagai simbol persahabatan lintas batas antara Indonesia,Timor Leste dan Australia.

Gerakan yang kompak, kostum adat yang berwarna-warni, serta irama musik tradisional yang menggema, menjadikan pertunjukan semakin memukau dan penuh makna. Tarian yang ditampilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga merefleksikan nilai sejarah, identitas, dan kebersamaan masyarakat Timor.

Kehadiran penari dari dua negara ini juga mempertegas bahwa perbatasan bukanlah pemisah, melainkan ruang kolaborasi budaya. Festival Fulan Fehan pun kembali menjadi panggung persahabatan internasional yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu harmoni.

Dalam acara ini disaksikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian bersama Ny. Tri Tito Karnavian, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto bersama istri, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Istri, Wali Kota Darwin, Australia, delegasi Timor Leste, perwakilan jajaran Kementerian terkait, Forkopimda, Pimpinan Vertikal, Ketua Organisasi Wanita, Tokoh adat serta ribuan masyarakat dan wisatawan.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengaku bangga sekaligus takjub setelah menyaksikan langsung keindahan tenun khas Belu dalam tarian kolosal likurai dan kemegahan Festival Fulan Fehan IV Tahun 2026.

Menurut Tito, acara ini bukan sekadar karya seni, tetapi warisan budaya yang memperkaya identitas bangsa Indonesia di mata dunia.

"Saya merasa bangga dengan karya seni yang indah di Belu, pewarisan budaya dan dipadukan dengan bentangan alam mahakarya Tuhan , ini merupakan keindahan luar biasa,” ujar Tito.

Tito juga mengaku terpesona dengan keindahan alam Savana Fulan Fehan yang menjadi lokasi penyelenggaraan festival. Menurutnya, panorama alam tersebut merupakan anugerah Tuhan yang tidak dapat dibuat oleh manusia.

Sementara itu salah satu penonton warga Baukama Erika mengungkapkan rasa bangganya karena festival Fulan Fehan kembali digelar, dimana melihat generasi muda tampil percaya diri membawakan tarian tradisional.

Menurutnya, dengan festival Fulan Fehan yang ke-IV menjadi ajang promosi budaya sekaligus promosi wisata di wilayah Kabupaten Belu yang tentunya telah mencuri perhatian dunia.

Sambunya juga keterlibatan anak-anak muda menjadi harapan besar agar budaya daerah tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

Ia juga memberikan apresiasi atas kehadiran penari dari Timor Leste yang dinilai mempererat hubungan persaudaraan masyarakat perbatasan karena melihat kesamaan budaya sebagai kekuatan yang menyatukan kedua wilayah.

Ia berharap festival seperti ini terus digelar setiap tahun sebagai wadah untuk menjaga dan memperkenalkan budaya kepada generasi penerus. (KM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....