Yadnya Tak Diukur dari Besarnya Upakara, tetapi Ketulusan Hati
- 15 Jul 2026 11:52 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Satwika Yadnya adalah pedoman umat Hindu untuk melaksanakan yadnya dengan tulus, ikhlas, dan penuh kesucian, bukan hanya persembahan lahiriah tetapi juga mencerminkan ketulusan hati.
- Umat Hindu mengenal lima jenis yadnya (Panca Yadnya): Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya yang masing-masing memiliki tujuan dan tata pelaksanaan berbeda.
- Nilai utama Satwika Yadnya terletak pada kesucian niat dan ketulusan hati pemberi persembahan, bukan pada besar kecilnya sarana upacara yang digunakan.
- Esensi Satwika Yadnya adalah menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, kemampuan, dan tanggung jawab sosial agar yadnya tidak menjadi beban ekonomi keluarga maupun lingkungan.
RRI.CO.ID, Denpasar — Program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, menghadirkan penyuluh agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Dewa Nyoman Arsana, yang membahas tema "Satwika Yadnya" sebagai pedoman umat Hindu dalam melaksanakan yadnya dengan tulus dan penuh kesucian, Senin, 13 Juli 2026. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa yadnya tidak hanya berupa persembahan secara lahiriah, tetapi juga mencerminkan ketulusan hati, keikhlasan, serta kepatuhan terhadap ajaran sastra agama.
Arsana menjelaskan bahwa umat Hindu mengenal Panca Yadnya, yakni Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya yang memiliki tujuan serta tata pelaksanaan masing-masing. "Yadnya hendaknya dilaksanakan berdasarkan sastra agama dan dilandasi hati yang tulus ikhlas," ujarnya.
Menurutnya, nilai utama dalam Satwika Yadnya bukan terletak pada besar kecilnya sarana upacara, melainkan pada kesucian niat orang yang mempersembahkannya. Persembahan yang dilakukan tanpa pamrih akan menghadirkan manfaat spiritual sekaligus memperkuat hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ia menambahkan bahwa sebelum menikmati hasil alam atau makanan, umat Hindu diajarkan untuk terlebih dahulu mempersembahkannya sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. "Setangkai bunga, sebiji buah, atau seteguk air pun dapat menjadi persembahan yang suci apabila dilakukan dengan hati yang bersih," kata penyuluh agama Hindu Kota Denpasar tersebut.
Dalam siaran tersebut juga dijelaskan bahwa unsur seni dalam pembuatan banten menjadi bagian penting dari ekspresi bhakti kepada Tuhan. Keindahan bentuk, susunan, dan makna simbolis banten diyakini mampu menghadirkan energi positif sekaligus memperkuat nilai spiritual dalam pelaksanaan yadnya.
Selain itu, pelaksanaan yadnya juga diingatkan agar tidak menjadi beban yang berlebihan bagi diri sendiri maupun lingkungan. "Jangan sampai yadnya yang kita laksanakan justru menimbulkan dampak negatif bagi ekonomi keluarga ataupun lingkungan," ungkap Arsana.
Ia menegaskan bahwa esensi Satwika Yadnya adalah menjaga keseimbangan antara nilai spiritual, kemampuan, dan tanggung jawab sosial. Pelaksanaan yadnya yang sesuai sastra, dilakukan dengan penuh kesadaran, akan memberikan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, serta kelestarian alam.
Menutup siaran, Arsana mengajak umat Hindu untuk terus memaknai yadnya sebagai jalan pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan dan kebijaksanaan. "Ketulusan hati adalah persembahan terbaik dalam setiap yadnya yang kita lakukan," pesannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....