Upakara Serba Praktis, Apakah Makna Sucinya Mulai Terlupakan?

  • 03 Jun 2026 12:45 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Program siaran obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar mengangkat tema “Upakara Praktis” bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer, Selasa, 2 Juni 2026. Dalam perbincangan tersebut, keduanya membahas fenomena masyarakat yang semakin menginginkan segala sesuatu serba praktis, termasuk dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu.

Tibah menjelaskan bahwa kesibukan dan tuntutan ekonomi sering kali membuat masyarakat memilih membeli sarana upakara yang sudah jadi dibandingkan membuatnya sendiri. Meski demikian, mereka mengingatkan bahwa kepraktisan tidak boleh menghilangkan nilai ketulusan dan pemahaman terhadap makna upacara yang dijalankan.

“Praktis boleh saja, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan makna dari upakara itu sendiri,” ujar Tibah. Ia menegaskan bahwa esensi utama upacara bukan terletak pada kemewahan sarana, melainkan pada ketulusan hati saat mempersembahkannya.

Dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai keraguan sebagian umat ketika membuat atau mempersembahkan banten yang sederhana. Menurut Kejoer, ukuran dan kelengkapan banten tidak menjadi tolok ukur utama selama disesuaikan dengan kemampuan dan dilandasi keyakinan yang tulus.

“Yang terpenting adalah rasa percaya dan keyakinan saat mempersembahkan banten sesuai kemampuan,” kata Kejoer. Ia menilai bahwa rasa ragu sering kali muncul karena membandingkan diri dengan persembahan orang lain yang terlihat lebih besar atau lebih lengkap.

Tibah dan Kejoer juga menjelaskan bahwa banten merupakan simbol persembahan diri kepada Tuhan. Karena manusia tidak dapat mempersembahkan dirinya secara langsung, maka nilai-nilai pengorbanan, rasa syukur, dan ketulusan diwujudkan melalui sarana upakara.

“Banten adalah simbol dari diri kita yang dipersembahkan kepada Tuhan,” ungkap Tibah. Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap filosofi banten penting agar umat tidak sekadar menjalankan tradisi secara lahiriah.

Pada akhir siaran, masyarakat diajak untuk lebih memahami makna upacara daripada hanya berfokus pada bentuk fisik persembahan. “Jangan sengaja mengurangi makna upacara, tetapi lakukan sesuai kemampuan dengan hati yang tulus,” pungkas Beli Kejoer.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....