Arkeolog Asal Cirebon Sinta Ridwan Raih Gelar Doktor di UI
- 08 Jul 2026 04:28 WIB
- Cirebon
RRI.co.id, Cirebon — Arkeolog, paleografer, dan filolog asal Cirebon, Sinta Ridwan, resmi meraih gelar Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul "Paleografi Sumatra: Pelokalan Aksara Kuna Prasasti Melayu Kuna (Abad ke-7 sampai ke-14 Masehi)" dalam sidang terbuka yang digelar di Auditorium Tjan Tjoe Som, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Kampus Depok pada Selasa, 30 Juni 2026. Penelitian tersebut mengungkap bahwa aksara pada prasasti Melayu Kuna di Sumatra merupakan hasil penyesuaian masyarakat lokal, bukan sekadar meniru aksara Pallawa dari India Selatan.
Sidang promosi doktor dipimpin promotor Prof. Dr. Agus Aris Munandar, S.S., M.Hum., dengan kopromotor Prof. Manneke Budiman, S.S., M.A., Ph.D. Selain itu, sidang juga menghadirkan penguji eksternal dari Universiti Sains Malaysia, Dr. Nasha bin Rodziadi Khaw, yang memiliki kepakaran di bidang arkeologi, epigrafi, dan paleografi, sehingga memperkuat perspektif akademik internasional terhadap penelitian tersebut.
Dalam disertasinya, Sinta Ridwan mengkaji 17 prasasti berbahasa Melayu Kuna di Sumatra dengan memadukan tiga disiplin ilmu, yakni paleografi, linguistik historis, dan arkeologi. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Sumatra kuno melakukan proses pelokalan terhadap aksara yang berasal dari luar, termasuk mengembangkan bentuk huruf untuk bunyi sengau "ng" yang tidak ditemukan pada aksara India.
| Baca juga: Alasan Mengapa Harus Ada Mie di Malam Imlek |
Atas temuan tersebut, Sinta mengusulkan penggunaan istilah Aksara Sumatra Kuna sebagai penyebutan yang lebih tepat bagi tradisi tulis pada prasasti-prasasti tersebut. Penelitian itu juga menjelaskan bahwa bahasa Melayu Kuna merupakan leluhur langsung bahasa Indonesia, yang masih menyisakan banyak kosakata hingga kini, seperti wulan menjadi bulan dan urang menjadi orang.

"Saya ingin menunjukkan bahwa masyarakat Sumatra pada masa lampau bukan sekadar penyalin. Mereka menerima aksara dari luar, lalu menyesuaikannya dengan bahasa sendiri. Di aksara-aksara kuna pada batu-batu Sumatra, penyesuaian itu dapat kita baca kembali," ujar Sinta Ridwan.
Bersamaan dengan sidang promosi doktor, Sinta juga menyelenggarakan pameran bertajuk "Dalam Pekat, Aksara Bersuara" di lingkungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Pameran tersebut menampilkan berbagai reproduksi prasasti, peta persebaran prasasti Sumatra, cetakan prasasti (abklats), artefak, hingga perjalanan penelitian yang dilakukan untuk memperkenalkan Sumatra sebagai salah satu pusat literasi dan kebudayaan Asia Tenggara pada masa lampau.
Melalui pameran tersebut, Sinta juga menghubungkan isi prasasti-prasasti kuno dengan kondisi lingkungan Sumatra saat ini. Salah satunya melalui pembacaan kembali Prasasti Talang Tuwo tahun 684 Masehi yang berisi doa bagi kesejahteraan seluruh makhluk sebagai refleksi terhadap bencana banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025.
Pameran turut menampilkan meja buku berisi karya-karya ilmiah Prof. Agus Aris Munandar dan Sinta Ridwan, termasuk buku kolaborasi terbaru berjudul PRADAKSINAPATHA Berkas Kajian Arkeologi dan Sumber Tertulis Masa Hindu-Buddha. Pengunjung juga disuguhi hidangan khas Cirebon sebagai bentuk penghormatan terhadap daerah asal Sinta Ridwan yang lahir dan besar di Kota Cirebon.
"Sumatra hari ini sering dikenal lewat tagar duka. Pameran ini ingin mengingatkan bahwa sebelum asap, ada batu-batu yang sudah lebih dahulu bersuara, dan suara itu belum padam," ujar Sinta Ridwan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....