Benarkah Nasionalisme Anak Muda Sudah Memudar

  • 03 Jul 2026 00:49 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Meulaboh - Jika kita searching tentang nasionalisme anak muda di Google, banyak bermunculan artikel yang membahas seberapa menurunnya rasa nasionalisme anak muda sekarang. Alasannya beragam, anak muda lebih mengenal budaya luar di banding budaya sendiri. Lebih hafal nama Idol K-Pop daripada nama pahlawan nasional, lebih tertarik mengikuti tren luar negeri daripada perkembangan budaya Indonesia. Jika melihat media sosial, anggapan tersebut terlihat masuk akal. Namun, menurut saya, nasionalisme anak muda hari ini tidak hilang, ia hanya hadir dalam bentuk berbeda. Kamis 2 Juli 2026.

Coba perhatikan apa yang terjadi setiap kali Indonesia dibicarakan oleh orang luar. Ketika ada YouTuber asing mencoba rendang, ketika wisatawan memuji keindahan alam Timur Indonesia, ketika atlet Indonesia meraih prestasi Internasional, atau ketika ada musisi Indonesia yang mendapat perhatian dunia, kolom komentar langsung dipenuhi oleh netizen Indonesia. Ada rasa bangga yang muncul ketika nama Indonesia disebut. Bahkan ketika Indonesia mendapat kritik dari luar negeri, banyak masyarakat yang ikut menanggapi. Fenomena ini menunjukkan bahwa keterikatan emosional terhadap Indonesia sebenarnya masih cukup kuat.

Salah satu contoh yang paling menarik menurut saya adalah dunia musik. Bebrapa tahun terakhir, musik Indonesia menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Tangga lagu digital semakin banyak diisi oleh musisi lokal, menggeser lagu Korean Pop, dan lagu luar lainnya.Di media sosial, lagu-lagu Indonesia menjadi latar berbagai konten yang ditonton jutaan orang tiap hari. Yang menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada lagu berbahasa Indonesia, tetapi juga pada lagu-lagu daerah.

Lagu-lagu Timur Indonesia misalnya, hampir selalu berhasil menarik perhatian publik. Banyak orang yang kahirnya mengenal beberapa kosakata daerah melalui lagu yang mereka dengarkan. Begitu juga dengan lagu Minang yang semakin sering muncul di berbagai platform digital. Lagu Jawa, Sunda, Batak, hingga Aceh juga memiliki pendengar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Meskipun tidak memahami seluruh arti liriknya, banyak orang tetap menikmati musik tersebut dan bahkan mencari tau maknanya. Tanpa disadari, musik telah menjadi sarana bagi anak muda yang mengenal Indonesia yang bergam.

Bagi saya, inilah bentuk nasionalisme yang sering luput dari perhatian. Nasionalisme tidak selalu berbentuk upacara bendera atau pidato tentang cinta tanah air. Nasionalisme juga bisa hadir ketika seseorang tertarik mempelajari budaya daerah lain karena sebuah lagu. Ketika seorang pemuda di Aceh menikmati lagu Jawa, atau ketika masyarakat di pulau Jawa ikut menyanyikan lagu dari Timur Indonesia, sesungguhnya mereka sedang membangun rasa saling mengenal sebagai sesama bangsa Indonesia.

Fenomena lain yang menarik adalah mulai bangkitnya berbagai genre mudaik lokal yang sebelumnya dianggap kurang diminati oleh anak muda. Dangdut kembali populer dengan berbagai inovasi. Campursari mendapatkan pendengar baru dari kalangan muda. Bahkan perpaduan genre modern dengan unsur dangdut dan budaya lokal mulai banyak bermunculan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia sebenarnya mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan indentitasnya.

Tidak hanya berkembang dalam negeri, beberapa musisi Indonesia juga membawa identitas Indonesia ke panggung Internasional. Kehadiran grup seperta No Na yang membawa nuansa Indonesia kepada pasar global. Grub MARBLES juga memperkenalkan lagu “Hompimpa” dengan inspirasi dari permainan tradisional Indonesia. Generasi muda ikut mensupport para musisi ini, ikut menujukkan bahwa budaya lokal memiliki daya tarik yang tidak kalah dengan budaya negara lain. Ketika unsur bahasa, cerita, dan budaya Indonesia diperkenalkan kepada dunia, kita dapat melihat bahwa identitas nasional masih menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh generasi muda.

Meski demikian, ada satu hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian. Terkadang kita terlalu bergantung pada pengakuan dari luar negeri. Kita baru bangga terhadap suatu budaya setelah budaya tersebut viral atau mendapat pujian dari orang luar. Padahal, nilai sebuah budaya tidak ditentukan oleh seberapa sering dibicarakan dunia internasional. Budaya Indonesia tetap beharga meskipun belum menajdi tren global.

Karena itu, nasionalisme anak muda tidak boleh berhenti pada rasa bangga di kolom komentar media sosial. Rasa bangga tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan yang lebih nayat, seperti mendukung karya lokal, mempelajari budaya daerah, menggunakan produk kreatif Indonesia, serta ikut memperkenalkan budaya Indonesia melalui karya dan aktivitas yang positif. Dengan cara itu, nasionalisme tidak hanya menajdi reaksi sesaat ketika Indonesia dibicarakan, tetapi menjadi sikap yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, nasionalisme generasi muda saat ini mungkin memang berbeda dengan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti nasionalisme itu hilang. Ia hadir dalam lagu daerah yang kita nyanyikan, kolom komentar yang mendukung, menjadi kebanggaan tersendiri ketika budaya Indonesia diperkenalkan ke dunia, dan dalam keinginan untuk terus mengenal keberagaman bangsa sendiri. Sebab mencintai Indonesia tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar. Terkadang, cukup mengenal, menghargai, dan menjaga budaya yang kita miliki, kita sudah menunjukkan bahwa nasionalisme itu masih hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....