Langkah Nyata Anak Muda Jaga Eksistensi Bahasa Ibu

  • 24 Jun 2026 18:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Di tengah riuhnya gempuran istilah asing yang kian akrab di telinga generasi masa kini, sebuah gerakan senyap namun pasti tengah ditiupkan oleh sepasang anak muda dari ufuk barat Indonesia. Ketakutan akan hilangnya identitas bangsa lewat bahasa justru mereka jadikan bahan bakar untuk turun tangan langsung, membuktikan bahwa kepedulian bukan sekadar wacana di ruang kelas.

"Kami tidak menyangka akan keluar sebagai pemenang utama karena ketatnya proses seleksi dan tingginya standar yang ditetapkan oleh dewan juri," aku Imannuel Maitreya Lee Wuisan Jr dan Qonita Isrina Daroja setelah resmi dinobatkan sebagai Pemenang I Duta Bahasa Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) 2026. Dikutip dari siaran Suara Budaya Nusantara, sepasang anak muda berprestasi ini kini tengah bersiap di Batam untuk memulai rangkaian tugas perdana mereka dalam mengawal eksistensi bahasa.

"Menjadi Duta Bahasa bukan sekadar menyandang gelar seremonial belaka, melainkan bertindak sebagai pengingat sekaligus penggerak masyarakat agar tetap mengutamakan bahasa nasional tanpa melupakan akar budaya lokal," tegas kedua perwakilan generasi Z tersebut. Keresahan mendalam terhadap fenomena generasi muda yang cenderung lebih sering menggunakan bahasa asing ketimbang bahasa daerah menjadi pemantik utama aksi nyata mereka.

Fokus utama yang akan mereka garap dalam masa jabatan ini adalah pelestarian kebudayaan Melayu, khususnya tradisi berbalas pantun yang menjadi ciri khas kuat di Kepulauan Riau. Imannuel—yang mengakui dirinya sempat berpindah-pindah daerah dan menjadikannya tantangan tersendiri untuk fasih berbahasa Melayu—berkomitmen untuk terus belajar dan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi.

Begitu pula dengan Qonita yang bertekad menggunakan platform digital miliknya untuk menginspirasi teman sebaya agar bangga menuturkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kolaborasi berbasis digital dan pendekatan kreatif ini sengaja didorong agar kesadaran berbahasa dapat tumbuh secara organik dalam interaksi sehari-hari di tengah masyarakat modern.

Mereka percaya bahwa menguasai bahasa asing merupakan hal yang positif untuk bersaing secara global, namun menjaga keseimbangan dengan mengutamakan bahasa Indonesia serta melestarikan bahasa daerah adalah wujud cinta tanah air yang sesungguhnya. Melalui langkah konkrit ini, kehadiran Duta Bahasa diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi seluruh generasi muda di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....