Menepis Mistis, Mendekatkan Tradisi Suran ke Generasi Muda

  • 11 Jun 2026 21:23 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta: Menjelang malam Satu Suro pertengahan Juni ini, obrolan soal tradisi leluhur kembali ramai dan seru buat diulik. Buat Anda anak muda yang penasaran sama esensi budaya lokal, RRI menyuguhkan ulasan santai biar kita nggak gampang kemakan mitos atau salah kaprah lagi. Dalam program siaran berjaringan Suara Budaya Nusantara (11/06), dialog interaktif bertajuk "Mendekatkan Tradisi Suran ke Generasi Muda" yang dipandu langsung oleh duet host Pro 4, yaitu Jo Aditya dari RRI Jakarta dan Jordan Talaksoru dari RRI Yogyakarta.

"Momen Satu Suro itu aslinya dari kata Jawa 'nyusuri roso' yang artinya introspeksi diri, ngoreksi kesalahan lama, dan berdoa biar kita terhindar dari apes. Jadi, bukannya mistis, serem, atau penuh pantangan aneh gara-gara keseringan nonton film horor, bulan Suro ini aslinya waktu yang pas buat kontemplasi. Kami pengen ngelurusin salah paham ini biar anak muda tahu kalau tradisi suran itu punya nilai yang masuk akal buat kehidupan sehari-hari," kata Romo Mamoek Wijaya, budayawan sekaligus pengasuh Yayasan Surya Budaya Nusantara yang jadi narasumber utama.

Di siaran siang tadi, Romo Mamoek juga blak-blakan soal alasan kenapa anak muda sekarang kayaknya males dan menjauh dari budayanya sendiri. "Penyebabnya sering kali karena cara ngenalin tradisinya terlalu kaku dan ribet, jadinya anak muda ngerasa nggak nyambung sama kehidupan digital mereka sekarang. Makanya, lewat yayasan, kami sering jemput bola ke sekolah dan kampus bikin acara kreatif, contohnya meditasi bareng yang dikemas kekinian. Kita memang harus ubah cara komunikasi pakai pendekatan digital biar nilai tata krama dan filosofi luhur ini bisa masuk dengan santai ke mereka," tutur budayawan ini.

Secara sejarah, obrolan tadi siang juga membahas penanggalan Jawa atau bulan Suro ini dulu dibuat oleh Raja Mataram Islam, Sultan Agung, sekitar tahun 1613–1645. Waktu itu, raja ngumpulin para ahli buat ngubah patokan kalender dari matahari ke bulan demi menyatukan rakyatnya. Dari sana muncul berbagai tradisi kayak mubeng beteng atau jalan kaki keliling benteng di Yogyakarta, yang aslinya tuh cara diplomasi spiritual dan doa bareng buat keselamatan negara. Jadi, semua kegiatan itu sebenarnya punya tujuan yang baik dan logis banget pada zamannya.

Lewat udara, pendengar diajak sadar kalau merawat tradisi itu bukan berarti kita jadi kuno, tapi justru biar kita melangkah ke depan dengan punya pegangan identitas yang kuat. Momentum malam Satu Suro ini justru bagusnya diisi sama hal-hal positif dan dijadikan waktu buat rehat sejenak dari ramainya rutinitas harian yang bikin stres. Lewat suksesnya siaran bareng ini, RRI kembali nunjukkin perannya sebagai media publik yang konsisten ngejaga nilai sejarah sekaligus bisa deketin warisan budaya Nusantara ke anak muda dengan cara yang asyik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....