Makna Filosofis Ketupat dalam Tradisi Lebaran

  • 27 Mar 2026 17:05 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi ketupat yang dirayakan masyarakat pasca-Ramadan bukan sekadar kuliner, tetapi juga media dakwah yang sarat makna filosofis. Ustaz H. Ibnu Arabi, S.Ag., M.Fil.I., menegaskan ketupat melambangkan “ngaku lepat” atau keberanian mengakui kesalahan.

Dalam siaran Kuliah Subuh di RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 27 Maret 2026, Ustaz Ibnu Arabi menjelaskan tradisi ketupat dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga sejak era Kerajaan Demak. Pendekatan dakwah kultural ini digunakan untuk menyampaikan ajaran Islam secara halus melalui simbol yang mudah diterima masyarakat.

Ia menyoroti anyaman janur yang rumit sebagai representasi perjalanan hidup manusia yang penuh liku dan ujian. Sementara itu, bagian dalam ketupat yang berwarna putih melambangkan kesucian hati setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Janur berasal dari kata jatining nur yang berarti cahaya sejati sebagai penuntun kehidupan,” ujar Ustaz Ibnu Arabi.

Ia menambahkan bahwa beras di dalam ketupat melambangkan kemakmuran dan keberkahan. Nilai tersebut diharapkan menyertai umat setelah meraih kemenangan spiritual.

Lebih lanjut, ia memaparkan konsep “laku papat” yang menjadi fondasi karakter pasca-Ramadan. Konsep tersebut meliputi Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan sebagai keseimbangan hubungan dengan Allah Swt. dan sesama manusia.

Ketupat juga menjadi pengingat bahwa kemuliaan tidak terletak pada ketiadaan dosa, melainkan pada kerendahan hati untuk saling memaafkan. Tradisi ini membangun kesadaran kolektif umat melalui silaturahmi yang tulus dan penuh keikhlasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....