Tradisi Munjung, Warisan Budaya Jawa Sarat Nilai Penghormatan

  • 03 Jul 2026 06:44 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi mengantar makanan kepada orang yang lebih tua atau dihormati, yang dikenal sebagai munjung, bukan sekadar kebiasaan berbagi hidangan. Di balik rantang berisi makanan tersimpan nilai penghormatan, silaturahmi, serta harapan akan doa restu yang diwariskan secara turun-temurun dalam budaya Jawa.

Hal tersebut disampaikan budayawan Sulisno, S.Sn., M.A. atau Ki Sulisno dalam siaran Ragam Budaya "Sambung Roso" RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu malam, 1 Juli 2026. Mengangkat tema "Tradisi Munjung dalam Masyarakat Jawa", siaran tersebut membahas makna, sejarah, hingga relevansi tradisi munjung di tengah perkembangan zaman.

Ki Sulisno menjelaskan bahwa istilah munjung berasal dari kata punjung yang berarti mengangkat ke tempat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tradisi ini dilakukan oleh generasi yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, seperti orang tua, mertua, kerabat yang dituakan, maupun tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan.

"Munjung itu mengalir dari yang muda kepada yang tua," ujarnya. "Bukan sekadar memberikan makanan, tetapi menjadi bentuk penghormatan sekaligus harapan agar orang yang dituakan memberikan doa restu."

Menurutnya, tradisi munjung umumnya dilakukan menjelang Hari Raya Idulfitri maupun saat keluarga menggelar hajatan, seperti pernikahan, kelahiran, atau syukuran. Dahulu, makanan diantar menggunakan rantang berisi nasi, lauk, sayur, hingga kebutuhan pokok seperti gula dan teh, sedangkan kini bentuknya mulai bergeser menjadi parcel berisi berbagai produk kemasan yang lebih praktis.

Ki Sulisno juga menjelaskan perbedaan antara munjung, ater-ater, dan weweh dalam tradisi masyarakat Jawa. Munjung merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua, sedangkan ater-ater adalah pemberian sebagai ungkapan terima kasih atau balas budi kepada sesama, sementara weweh berarti memberi tanpa mengharapkan balasan, misalnya berbagi makanan kepada tetangga.

Ia menilai perubahan bentuk tradisi merupakan hal yang wajar seiring perkembangan zaman. Namun, nilai utama yang terkandung di dalamnya, yakni menghormati orang yang lebih tua, menjaga hubungan baik, dan mempererat silaturahmi, harus tetap dipertahankan.

"Yang terpenting bukan lagi soal rantang atau parcelnya," kata Ki Sulisno. "Tetapi semangat saling memberi, menghormati, dan menjaga hubungan baik antarkeluarga maupun masyarakat tetap hidup."

Ki Sulisno menegaskan bahwa tradisi munjung bukan hanya warisan budaya Jawa, tetapi juga sarana memperkuat nilai gotong royong, penghormatan antargenerasi, dan keharmonisan sosial. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk dijaga dan dilestarikan di tengah kehidupan masyarakat modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....