Makna Muhasabah Diri Melalui Kisah 'Palui Menilik Diri'

  • 18 Jun 2026 05:38 WIB
  •  Banjarmasin

RRI CO.ID, Banjarmasin - “Palui Manilik Diri” itulah tema Ragam Budaya Madihin Syair Bakisah Pro 4 RRI Banjarmasin, Selasa, 16 Juni 2026. Bersama Maestro Madihin, H. Anang Syahrani, tema ini mengangkat pesan budaya dan nilai keagamaan tentang pentingnya introspeksi atau muhasabah diri menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Dalam dialog yang diawal dengan Madihin, Anang Syahrani menjelaskan istilah “manilik diri” dalam bahasa Banjar memiliki makna melihat dan mengevaluasi kembali perilaku serta perjalanan hidup seseorang. Konsep tersebut selaras dengan ajaran agama Islam tentang muhasabah, yakni mengoreksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Manilik itu bukan hanya melihat dengan mata, tetapi melihat dengan hati. Bagaimana kita menilai diri, apa yang sudah dilakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus ditingkatkan,” ujarnya.

Kisah Palui dalam syair bakisah menjadi gambaran sederhana tentang manusia yang sering merasa sudah benar, namun perlu kembali bercermin terhadap kekurangan diri. Melalui cerita tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa evaluasi diri menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan.

Menurutnya, momentum pergantian tahun Hijriah menjadi waktu yang tepat untuk membuka lembaran baru. Berbagai kebiasaan kurang baik yang terjadi di masa lalu perlu diperbaiki, sementara hal positif harus terus dipertahankan dan dikembangkan.

“Yang kurang baik jangan diulangi lagi, yang sudah baik ditingkatkan. Kita perlu menyusun strategi hidup agar lebih bermanfaat,” katanya, mengingatkan.

Anang Syahrani juga menilai budaya masyarakat Banjar dalam menyambut Tahun Baru Islam yang masih kental dengan nilai kebersamaan. Seperti pawai obor, kegiatan keagamaan, hingga berbagai tradisi yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.

Dikatakan, tradisi tersebut bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi sarana mengingat kembali perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW. Selain itu dapat mengambil nilai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu melalui kisah Palui, masyarakat diajak memahami bahwa manusia perlu terus belajar, meningkatkan kemampuan. Hikmah lainnya adalah mengembangkan potensi diri di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

“Jangan hanya menunggu, tetapi gali potensi diri dengan ilmu, keterampilan, dan kemampuan yang kita miliki,” ujar pa Anang dalam syairnya diakhir siaran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....