Perempuan Perlu Berani Mencari Bantuan untuk Mengatasi Beban Psikologi
- 11 Jul 2026 00:47 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Beban psikologi atau tekanan mental dapat muncul dari berbagai bentuk seperti stres yang berkepanjangan, perasaan sedih, kehilangan semangat untuk beraktivitas sehari-hari dan merasa kelelahan. Kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor seperti masalah pekerjaan dan rumah, kesulitan ekonomi, serta pengalaman dengan kekerasan.
Konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Ayu Suhadi, S.Psi., M.Ed., mengajak perempuan untuk tidak memendam seluruh persoalan hidup seorang diri. Menurutnya, keberanian mencari bantuan kepada keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional merupakan langkah yang tepat dalam menjaga kesehatan mental sekaligus bentuk ikhtiar menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Hal ini dikatakannya dalam Dialog Perempuan dan Anak RRI Banda Aceh bertajuk "Kemuliaan Perempuan dalam Islam: Menjalani Ujian dengan Sabar, Menjaga Diri dengan Bermartabat", Senin 6 Juli 2026.
Ia mengatakan, banyak perempuan yang datang menjalani konseling bukan karena memiliki kelemahan, melainkan karena terlalu lama memikul berbagai tanggung jawab tanpa berbagi beban dengan orang lain. "Sering kali perempuan datang ke praktik konseling bukan karena mereka lemah, tetapi karena terlalu sering memikul semua beban sendiri. Mereka merasa harus kuat dalam segala hal," katanya.
Menurut Ayu, konsep sabar dalam ajaran Islam tidak berarti membiarkan diri terus tertekan tanpa mencari solusi. Sebaliknya, kesabaran harus diiringi dengan ikhtiar, termasuk berani meminta pertolongan ketika kondisi psikologis mulai terganggu.
Ia juga menjelaskan, gejala seperti kecemasan berlebihan, sulit tidur, hingga depresi tidak boleh dianggap sebagai hal yang sepele. Apabila kondisi tersebut mulai dirasakan, perempuan disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga profesional agar memperoleh pendampingan yang tepat.
"Kalau sudah muncul gejala seperti cemas berlebihan, sulit tidur, atau depresi, jangan ragu mencari bantuan profesional. Itu juga bagian dari ikhtiar menjaga diri," tambahnya.
Selain itu, Ayu menekankan pentingnya memiliki self esteem atau penghargaan diri yang sehat. Dengan menghargai diri sendiri, perempuan akan lebih mampu memandang setiap persoalan sebagai proses pembelajaran dan kesempatan untuk berkembang, bukan sebagai hambatan yang membuatnya terpuruk.
Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak terjebak dalam kebiasaan overthinking yang dapat menguras energi dan menghambat potensi diri. "Perempuan boleh berpikir, tetapi jangan sampai berpikir berlebihan. Fokuslah pada apa yang bisa dilakukan hari ini, bukan pada hal-hal yang belum tentu terjadi," ucapnya.
Dukungan dari keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental perempuan. Lingkungan yang mampu mendengarkan, memahami, dan tidak menghakimi akan membantu perempuan merasa lebih aman untuk mengungkapkan perasaan serta mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.
Ayu berharap semakin banyak perempuan menyadari bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari upaya menjaga diri yang diajarkan dalam Islam. Keberanian mencari bantuan ketika menghadapi tekanan psikologis bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri agar tetap mampu menjalankan peran dalam keluarga maupun masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....