Islam Melarang Mencela Pemerintah, Ini Dalilnya
- 14 Jun 2026 15:42 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Dalam kehidupan bermasyarakat, keberadaan pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan stabilitas suatu negara. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan tuntunan mengenai bagaimana seorang muslim bersikap terhadap pemimpin dan pemerintah.
Salah satu ajaran yang ditekankan adalah larangan mencela pemerintah atau pemimpin di hadapan umum, karena hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan, kebencian, dan kekacauan di tengah masyarakat.
Namun, larangan mencela bukan berarti membenarkan seluruh kebijakan pemerintah tanpa kritik. Islam tetap mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar, tetapi dilakukan dengan cara yang santun, bijaksana, dan sesuai syariat.
Allah Subhana Wataalla berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu."
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk menaati pemimpin dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersabda:
"Barang siapa yang ingin menasihati penguasa mengenai suatu perkara, maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi peganglah tangannya dan menyendirilah dengannya. Jika ia menerima nasihat itu maka itulah yang diharapkan, dan jika tidak maka ia telah menunaikan kewajibannya."
(HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menjelaskan bahwa ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan, cara yang diajarkan Islam adalah memberikan nasihat secara baik dan tidak mempermalukannya di depan umum.
Dalam hadis lain Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Barang siapa memuliakan penguasa Allah di bumi, maka Allah akan memuliakannya. Dan barang siapa menghinakannya, maka Allah akan menghinakannya."
(HR. Tirmidzi)
Para ulama menjelaskan bahwa menghormati pemimpin merupakan bagian dari menjaga persatuan umat dan mencegah timbulnya fitnah yang lebih besar.
Islam tidak melarang umatnya menyampaikan kritik. Bahkan para sahabat Nabi juga pernah memberikan masukan kepada para khalifah. Namun kritik tersebut dilakukan dengan niat memperbaiki, bukan menjatuhkan atau menimbulkan kebencian.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa menasihati pemimpin merupakan kewajiban, tetapi harus dilakukan dengan kelembutan dan cara yang memungkinkan nasihat tersebut diterima.
Karena itu, mencaci maki, menghina, menyebarkan fitnah, atau mengobarkan kebencian terhadap pemerintah bukanlah metode yang diajarkan Islam.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika masyarakat kehilangan rasa hormat kepada pemimpinnya dan lebih mengedepankan caci maki daripada dialog, sering kali yang muncul adalah konflik dan perpecahan. Sebaliknya, ketika kritik disampaikan secara santun dan konstruktif, stabilitas negara dapat tetap terjaga.
Di berbagai negara yang dilanda perang dan konflik berkepanjangan, runtuhnya stabilitas pemerintahan sering kali menyebabkan rakyat kehilangan rasa aman, kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok, hingga terpaksa mengungsi. Kondisi ini menjadi pelajaran berharga bahwa keamanan dan ketertiban merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri
Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati dan menaati pemerintah selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Ketika terdapat kesalahan atau kebijakan yang dianggap kurang tepat, seorang muslim dianjurkan memberikan nasihat dan kritik dengan cara yang baik, bukan melalui caci maki, penghinaan, atau provokasi yang dapat memecah belah masyarakat.
Dengan menjaga adab terhadap pemimpin, umat Islam turut menjaga persatuan, keamanan, dan stabilitas yang menjadi salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.(TP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....