Libur Panjang: antara Quality Time Keluarga dan Risiko Anak Kurang Pengawasan
- 04 Apr 2026 15:22 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Libur panjang kerap menjadi momen yang dinanti banyak keluarga. Waktu luang ini sering dimanfaatkan untuk beristirahat, berkumpul bersama, hingga mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Namun di balik suasana hangat tersebut, muncul kekhawatiran akan risiko yang mengintai, terutama bagi anak-anak yang kurang mendapatkan pengawasan.
Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 3 April 2026, topik mengenai kebijakan libur cuti bersama menjadi sorotan. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd, mengungkapkan bahwa libur panjang tidak selalu berdampak positif jika tidak diimbangi dengan pengawasan dan kegiatan yang terarah.
Menurut Made Ariasa, fenomena di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang menghabiskan waktu libur tanpa pendampingan orang tua. Tidak sedikit yang justru terlibat dalam aktivitas berisiko, seperti pergaulan bebas, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol, hingga perilaku berbahaya di jalanan. “Kurangnya pengawasan, terutama saat orang tua sibuk bekerja, menjadi salah satu faktor munculnya berbagai permasalahan pada anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahkan di hari sekolah pun tantangan pengawasan sudah cukup besar, apalagi saat libur panjang. Kondisi ini semakin kompleks dengan maraknya penggunaan media sosial yang menjadi ruang baru bagi anak untuk berinteraksi, namun juga berpotensi menjerumuskan jika tidak dibimbing dengan baik.
Di sisi lain, libur panjang tetap memiliki nilai positif. Perwakilan Forum Anak Daerah Bali, I Made Krisna Sukma Wardana menilai bahwa waktu libur bisa menjadi kesempatan untuk mengembangkan diri. Anak-anak dapat memanfaatkan waktu untuk belajar hal baru, mengikuti kegiatan komunitas, atau bahkan berkarya melalui media digital.
Hal senada disampaikan oleh Runner Up 1 Duta Anak Provinsi Bali 2025, Dheandra Aurelia Anjani Harahap yang menekankan pentingnya kesadaran diri anak dalam mengisi waktu libur. “Liburan bisa jadi momen untuk menggali potensi diri, tapi tetap perlu pendampingan orang tua agar tidak salah arah,” jelasnya.
Namun, realita di lapangan tidak selalu ideal. Bagi sebagian keluarga, terutama dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, libur panjang justru menjadi tantangan tersendiri. Orang tua tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga waktu untuk mendampingi anak menjadi terbatas.
Di tengah dinamika tersebut, muncul satu benang merah, yaitu libur panjang memang bisa menjadi momen berkualitas bagi keluarga, namun juga berpotensi menimbulkan masalah jika tidak dikelola dengan baik. Pengawasan, komunikasi, serta pemanfaatan waktu yang tepat menjadi kunci agar liburan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga aman dan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Libur panjang bukan sekadar jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan untuk membangun kualitas hubungan keluarga sekaligus menjaga anak tetap berada di jalur yang positif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....