Sejarah, Makna dan Perjuangan Hari Wanita Indonesia

  • 04 Mar 2026 10:40 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Peringatan Hari Wanita Indonesia yang jatuh setiap 9 Maret menjadi momentum bagi masyarakat untuk merenungkan perjuangan panjang perempuan Indonesia dalam meraih kesetaraan hak di berbagai bidang kehidupan. Hari Wanita Indonesia diperingati sehari setelah Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap 8 Maret.

Perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia telah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan. Dua tokoh yang menonjol dalam sejarah ini adalah Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika.

Kartini dikenal lewat gagasannya tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Surat-suratnya kepada sahabat di Belanda dibukukan dalam karya Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia mendirikan sekolah bagi perempuan setelah menikah pada 1903 sebagai langkah membuka akses pendidikan untuk perempuan.

Sementara itu, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Istri pada 1904 di Bandung, yang berkembang menjadi Sekolah Raden Dewi. Ia menekankan bahwa pendidikan adalah sarana utama memajukan derajat perempuan sekaligus membentuk generasi bangsa yang berkualitas.

Makna Hari Wanita Indonesia dan Perbedaannya

Hari Wanita Indonesia berbeda dengan Hari Perempuan Internasional dan Hari Ibu.

Hari Perempuan Internasional (8 Maret): Momentum global yang diakui PBB untuk mendorong kesetaraan gender dan hak perempuan di seluruh dunia.

Hari Wanita Indonesia (9 Maret): Refleksi nasional atas perjuangan perempuan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan.

Hari Ibu (22 Desember): Menghargai peran ibu dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan bangsa, berakar dari Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928.

Menurut World Health Organization (WHO), gender adalah konstruksi sosial terkait peran dan perilaku yang dianggap sesuai bagi laki-laki dan perempuan, berbeda dengan jenis kelamin biologis. Kesetaraan gender menegaskan bahwa setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, serta partisipasi sosial dan politik.

Hari Wanita Indonesia bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga ajakan untuk melanjutkan upaya kesetaraan gender. Perempuan kini memiliki akses yang semakin luas dalam pendidikan, dunia kerja, hingga kepemimpinan publik. Semangat Kartini dan Dewi Sartika mengingatkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, termasuk keberanian mengembangkan potensi diri dan mengambil peran strategis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....