Sampah Plastik Ancam Kehidupan Penyu di NTT

  • 19 Mei 2026 19:18 WIB
  •  Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Sampah plastik dan perburuan liar yang marak, mengancam kehidupan penyu, serta kerusakan parah pada keseimbangan ekosistem laut di NTT.

"Tanpa adanya kesadaran kolektif dari masyarakat menghentikan aktivitas merusak ini, kepunahan reptil laut purba tersebut di perairan Lembata tidak akan bisa dihindari," ujar Densianus Ado Nunang, Ketua kelompok Sahabat Penyu Loang Kabupaten Lembata-NTT
kepada rri.co.id, Selasa 19 Mei 2026.

Menurut Densianus dampak fatal yang diakibatkan oleh sampah plastik, karena penyu sering menelan plastik. Bahkan juga tukik yang kerap terjebak dalam sampah sehingga pasca menetas gagal kembali ke laut.

"Pengamatan kami penyu sering kali mengira kantong plastik transparan yang mengapung sebagai makanan mereka. Ketika tertelan, plastik menyumbat saluran pencernaan dan menyebabkan kematian."

Masih dalam pengamatan Sahabat Penyu Loang, sampah plastik yang menumpuk di area pesisir pantai menghalangi jalur tukik (anak penyu) yang baru menetas untuk menuju ke laut lepas. Sehingga tukik menjadi sangat rentan mati akibat dehidrasi, atau dimangsa predator.

Menurutnya, dampak fatal seperti perburuan liar terhadap hewan kategori reptil purba ini juga secara tidak langsung dapat memutus siklus regenerasi.

"Perburuan liar menyasar penyu dewasa yang hendak bertelur dan pencurian telurnya di sepanjang pesisir pantai menyebabkan siklus pertumbuhan penyu sangat lambat,sehingga hilangnya populasi produktif ini dan memutus rantai regenerasi spesies secara ekstrem," tuturnya.

Selain itu,dampak lainnya melalui perburuan liar dapat menyebabkan kehilangan spesies jenis langkah. "Di perairan Lembata,sering terjadi perburuan jenis penyu hijau,penyu sisik, dan penyu lekang menjadi target utama perburuan dan beberapa di antaranya sudah masuk dalam kategori sangat terancam punah," tuturnya.

Melalui gerakan yang dimulai sejak tahun 2016,Densianus menyebutkan,sahabat penyu loang terus menyerukan kolaborasi lintas sektor"Dukungan serta perhatian semua pihak sangat dibutuhkan,demi menyelamatkan alam laut dari kelumpuhan ekologis termasuk reptil purba penyu," ujar Densianus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....