Makna Sosial Budaya Mudik dalam Tradisi Masyarakat Jawa
- 17 Apr 2026 14:48 WIB
- Banjarmasin
Poin Utama
- Mudik bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi praktik sosial budaya
- Masyarakat Jawa dominan dalam tradisi mudik dan arus balik
- Hubungan dengan kampung halaman tetap menjadi bagian penting bagi perantau
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Tradisi mudik masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik menjelang maupun setelah Lebaran. Antusiasme masyarakat juga terlihat pada arus balik yang terjadi di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan oleh Sulisno, S.Sn., M.A dalam acara Ragam Budaya Sambung Roso, Rabu, 15 April 2026 di RRI Pro4 Banjarmasin. Menurutnya, masyarakat Jawa termasuk kelompok yang dominan dalam tradisi mudik, baik dari segi jumlah maupun intensitas pergerakannya.
Ia menjelaskan, mudik dan arus balik bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan praktik sosial budaya yang sarat makna. Tradisi ini menjadi bagian dari kebutuhan manusia untuk kembali menjalin kedekatan dengan keluarga dan lingkungan asal.
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi, ada hal-hal yang tidak dapat tergantikan, seperti berjabat tangan dan berpelukan. Kebersamaan secara langsung, termasuk makan bersama, tetap menjadi momen yang memiliki makna emosional bagi banyak orang.
“Orang Jawa, terutama yang tinggal di pedesaan, hidup secara komunal sehingga kebersamaan sangat penting,” kata Ki Sulisno. “Ungkapan ‘mangan ora mangan sing penting ngumpul’ dan ‘ngumpul ora ngumpul sing penting mangan’ menunjukkan pentingnya kebersamaan dan kebutuhan hidup.”
Ia menambahkan, dalam pandangan sebagian orang tua, anak-anak diharapkan menikah dengan pasangan yang tidak jauh dari kampung halaman agar tetap bisa berkumpul. Namun, di sisi lain, masyarakat Jawa justru dikenal sebagai perantau yang banyak merantau hingga ke luar daerah bahkan luar negeri.
“Falsafah ‘mangan ora mangan, sing penting kumpul’ kini mengalami pergeseran menjadi ‘kumpul ora kumpul, sing penting mangan’,” ujarnya. “Hal ini mencerminkan dinamika nilai dalam masyarakat yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.”
Menurutnya, dominasi masyarakat Jawa dalam arus mudik tidak lepas dari sejarah panjang migrasi internal di Indonesia. Banyak masyarakat Jawa merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, hingga ke luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan, untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Fenomena tersebut didorong oleh keterbatasan ekonomi di desa serta peluang kerja di daerah lain. Meski demikian, hubungan sosial dengan keluarga dan kampung halaman tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan perantau.
“Di perantauan kita bertemu saudara dan lingkungan baru, itu yang membuat hidup terasa lebih berwarna,” ujar Ki Sulisno. “Namun jangan sampai melupakan kampung halaman, karena kebersamaan adalah bagian dari kebahagiaan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....