Ilmu Titen, Pengetahuan dalam Membaca Tanda dari Pengamatan Alam
- 13 Jun 2026 08:28 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin — Ilmu Titen, adalah sebuah pengetahuan tradisional yang berkembang di masyarakat Jawa. Pengetahuan dalam membaca tanda-tanda melalui pengamatan terhadap alam, manusia, maupun lingkungan sosial.
"Kata “titen” memiliki makna mengingat atau mengenali sesuatu berdasarkan ciri dan tanda tertentu. Seseorang dapat mengenali suatu hal karena adanya penanda yang melekat, baik berupa suara, bentuk, kebiasaan, maupun kondisi tertentu," kata Ki Sulisno menjelaskan, dalam Program Ragam Budaya “Sambung Roso” PRO 4 RRI Banjarmasin, Rabu, 10 Juni 2026.
Ki Sulis mencontohkan, misalnya mengenali kendaraan dari ciri khususnya. Ada tanda yang membuat kita ingat bahwa itu milik kita. Begitu juga dalam kehidupan, manusia belajar mengenali tanda dari pengalaman,” kata Ki Sulisno.
Dikatakan, masyarakat Jawa sejak dahulu menggunakan Ilmu Titen dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk membaca fenomena alam, kondisi tubuh, hingga hubungan sosial. Para petani misalnya, memanfaatkan pengamatan terhadap tanda alam untuk menentukan waktu bercocok tanam.
“Orang zaman dulu membaca tanda-tanda alam. Mereka melihat pola yang berulang, seperti perubahan cuaca, tanda di langit, atau perilaku hewan. Dari pengamatan panjang itulah muncul kesimpulan yang kemudian disebut ilmu titen,” ujar Ki Sulisno.
Menurutnya, Ilmu Titen memiliki kemiripan dengan proses pengamatan dalam ilmu pengetahuan modern, meskipun penyampaiannya berbeda. Ilmu modern menggunakan metode yang lebih terstruktur dan terukur, sementara ilmu titen banyak diwariskan melalui tradisi lisan maupun tulisan.
Ki Sulisno menambahkan, masyarakat perlu membedakan antara Ilmu Titen dengan fenomena cocokologi atau menghubungkan sesuatu secara sembarangan. Ilmu titen berangkat dari pengalaman nyata dan pola yang diamati secara berulang, sedangkan cocokologi lebih kepada permainan keterkaitan tanpa dasar pengamatan yang kuat.
“Ilmu titen itu ada unsur pengamatan dan pengalaman yang panjang. Bukan sekadar kebetulan, tetapi ada proses mengenali pola yang terjadi berulang,” katanya.
Pada kesempatan itu Ki Sulisno juga menyoroti pentingnya menjaga kepekaan manusia terhadap lingkungan di tengah perkembangan zaman modern. Menurutnya, kebiasaan masyarakat dahulu yang dekat dengan alam menjadi salah satu cara melatih kepekaan membaca keadaan sekitar.
"Tradisi lisan di sejumlah daerah yang berisi pesan tentang bencana alam menjadi bukti bahwa pengetahuan lokal dapat membantu masyarakat menghadapi kondisi tertentu," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....