Rupiah Loyo, Komisi XI DPR Minta BI Beri Penjelasan Komprehensif ke Masyarakat

  • 19 Mei 2026 12:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Hanif Dhakiri menyorot tajam, anjloknya nilai tukar rupiah Rp17.670 per dolas AS.
  • Pernyataan BI terkait rupiah itu, menurut Hanif, sampai saat ini menimbulkan pertanyaan publik.
  • Kita perlu mendapatkan gambaran jelas, langkah stabilisasi apa yang sedang ditempuh, bagaimana efektivitasnya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Hanif Dhakiri memberikan tanggapan terkait anjloknya nilai tukar rupiah Rp17.670 per dolas AS. Ia-pun meminta Bank Indonesia memberikan penjelasan komprehensif ke masyarakat terkait pernyataan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga.

Pernyataan BI terkait rupiah itu, menurut Hanif, sampai saat ini menimbulkan pertanyaan publik. Baik terkait faktor eksternal yang menekan pasar keuangan global, maupun persepsi pasar terhadap fundamental ekonomi domestik.

“Apakah yang dimaksud stabil adalah volatilitas yang masih terkendali, meskipun level kurs mengalami penyesuaian?. Penjelasan ini penting agar komunikasi kebijakan lebih mudah dipahami masyarakat,” kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 19 Mei 2026.

Hanif menilai, keterbukaan komunikasi dari otoritas moneter penting untuk menjaga kepercayaan publik dan pasar. Oleh karenanya, penting BI menjelaskan secara lebih rinci strategi stabilisasi yang sedang ditempuh.

“Kita perlu mendapatkan gambaran jelas, langkah stabilisasi apa yang sedang ditempuh, bagaimana efektivitasnya. Dan, sejauh mana instrumen yang digunakan mampu meredam tekanan yang ada," ucap Hanif.

Lebih lanjut, Hanif mendorong, BI memaparkan posisi volatilitas rupiah dibandingkan dengan negara-negara selevel (peer countries). Termasuk, pendekatan kebijakan yang digunakan dalam merespons tekanan nilai tukar.

“Kalau ukuran stabilitas adalah volatilitas, maka menarik untuk melihat bagaimana posisi rupiah dibandingkan negara peers. Dengan begitu, publik bisa mendapatkan konteks yang lebih utuh mengenai kondisi kita saat ini dan respons kebijakan yang diambil,” ujar Hanif.

Tidak lupa, Hanif menekankan, pentingnya sinergi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Khususnya, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Kita ingin memastikan koordinasi kebijakan berjalan solid, stabilitas ekonomi tidak hanya menjadi tanggung jawab otoritas moneter. Tetapi, membutuhkan sinergi yang kuat dengan kebijakan fiskal dan langkah-langkah lain untuk menjaga kepercayaan pasar serta daya tahan ekonomi nasional,” kata Hanif.

Sebelumnya diberitakan, pemerintah dan BI menilai, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman. Kondisi tersebut dinilai bukan disebabkan oleh melemahnya fundamental ekonomi domestik.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan. Pemerintah, kata dia, saat ini fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap terjaga.

“Nanti kita perbaiki pelemahan rupiah. Sekarang fondasi ekonominya bagus, ini hanya masalah sentimen jangka pendek. Saya fokus menjaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu, kami juga akan masuk ke pasar obligasi," ujar Purbaya di Jakarta, Senin 18 Mei 2026

Ia menilai kekhawatiran sebagian pihak yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1997–1998 tidak tepat. Menurutnya, situasi ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibandingkan periode krisis tersebut.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Ia menjelaskan penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu faktor musiman.

Faktor tersebut seperti meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk musim haji, pembayaran dividen, dan kewajiban utang luar negeri. “Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran dividen, dan pembayaran utang,” ujar Perry di Gedung DPR RI.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....