Rupiah Masih Tertekan, Ditutup Melemah ke Rp17.667 per Dolar AS
- 18 Mei 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,41 persen atau 71 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS
- Tekanan faktor eksternal yang masih tinggi menyebabkan dolar AS menguat. Imbasnya, mata uang rupiah semakin melemah
- Pasar memprakirakan the Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,41 persen atau 71 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS.
Tekanan faktor eksternal yang masih tinggi menyebabkan dolar AS menguat. Imbasnya, mata uang rupiah semakin melemah.
“Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak. Inflasi mendorong ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek kebijakan suku bunga the Fed,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam anaisisnya, Senin, 18 Mei 2026.
Pasar memprakirakan the Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. “Inflasi semakin menjadi dari target the Fed sebesar 2 persen,” ucap Ibrahim.
Sementara itu, harapan akan berakhirnya perang AS-Iran pupus karena Trump kembali beretorika melakukan aksi militer ke Iran. Trump melontarkan ancamannya setelah serangan ke pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab.
Uni Emirat Arab menyatakan masih menyelidiki sumber serangan tersebut. Di sisi lain, Arab Saudi juga mengklaim berhasil mencegah serangan drone.
“Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik,” ujar Ibrahim. Pada saat yang sama pasar masih kecewa pertemuan Trump dan Xi Jinping tidak menghasilkan solusi mengakhiri pertikaian di Timur Tengah.
Selain faktor eksternal, faktor dalam negeri ikut menekan nilai tukar rupiah. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa orang desa tidak menggunakan dolar AS menjadi sentimen negatif pasar.
“Sangat disayangkan, orang-orang di lingkaran Presiden tidak bisa mengarahkan pidato Presiden sesuai protokol yang ada. Ini merupakan koreksi untuk melakukan pembenahan agar tidak terulang lagi,” ucap Ibahim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....