Pariwisata Bali Harus Mampu Sikapi Perubahan Pasar
- 26 Jan 2026 12:17 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Kuta : Bali Villa Association (BVA) bersama Control Union Indonesia, lembaga sertifikasi independen berstandar global, menggelar talkshow Sustainability for Every Stay bertajuk “Building Future Ready Villas Through Sustainable Hospitality” di Seminyak, Jumat 23 Januari 2026. Kegiatan ini membahas tren pariwisata terkini serta pentingnya sertifikasi keberlanjutan bagi akomodasi.
Senior Bussines Development Executive Control Union Indonesia, Muhamad Rifki menjelaskan, latar belakang talkshow ini adalah perubahan cara pandang pasar wisatawan. Pasar yang sebelumnya bersifat masif dan tidak berpikir dampak, kini lebih mengedepankan pada berlibur yang juga peduli pada lingkungan, adat, seni dan budaya.
"Talkshow ini juga menjawab kebutuhan Bali, dengan berbagai kejadian seperti banjir, overtourism dan sebagainya, yang juga menjadi konsern dari para pelaku pariwisata dan usaha akomodasi wisata di Bali," katanya ketika ditemui wartawan.
"Bagaimana aksi yang mereka (pelaku pariwisata) lakukan dapat mengubah citra Bali," lanjutnya.

Rifki menyebut, pelaku usaha wisata di Bali perlu memperbaharui pemahaman soal pentingnya keberlanjutan di sektor pelesiran. Keberlanjutan itu tidak sebatas lingkungan, tetapi mencakup adat, seni dan budaya.
"Karena berbicara keberlanjutan, kita harus menyeimbangkan semuanya, termasuk ekonomi masyarakat sekitar," ujarnya.
Ia menyebut, keberlanjutan bukan hanya isu bagi Bali, tetapi global. Harapannya isu itu bisa diubah menjadi gaya hidup dan kebutuhan masyarakat, pelaku indusri serta wisatawan.
"Apalagi wisatawan sekarang lebih konsern mencari pengalaman yang berkaitan dengan kearifan lokal, akomodasi ramah lingkungan dan produk perjalanan berkelanjutan," sebutnya.
"Bahkan saat wisatawan ingin membeli barang atau souvenir, mereka berpikir untuk bisa membeli dari masyarakat lokal," lanjutnya.
Sertifikasi pariwisata berkelanjutan menjadi bentuk jaminan bagi wisatawan atas komitmen usaha pariwisata terhadap standar keberlanjutan. Bahkan hal iyu kini semakin didukung oleh online travel agent serta menjadi persyaratan dari tour operator Eropa dan Amerika Serikat
“Kami di Control Union Indonesia percaya bahwa keberlanjutan tidak hanya diperuntukkan bagi properti mewah dan berbintang. Dengan meningkatnya permintaan pasar terhadap akomodasi seperti villa, lodge, dan glamping, akomodasi ini juga perlu menunjukkan kredibilitas atas aksi keberlanjutannya agar selaras dengan standar global dan ekspektasi wisatawan internasional,” ujar Rifki.
Sementara itu, Ketua BVA, Putu Gede Hendrawan berharap, talkshow ini dapat memberi gambaran bagi para pelaku industri terkait pentingnya mengutamakan unsur keberlanjutan. Pelaku industri juga harus menyeimbangkan itu dengan sertififikasi akomodasi yang dikelola.
"Karena dengan perubahan pasar, dimana wisatawan semakin selektif, destinasi dan pelaku industri harus sadar pentingnya sertifikasi," katanya.
Sederet peristiwa di villa, diakui Hendrawan menjadi salah satu pertimbangan wisatawan. Oleh karenanya dengan sertifikasi, pengelola akan dapat meningkatkan nilai tawar villa di mata calon wisatawan.
"Dengan adanya sertifikasi sesuai regulasi dan standarisasi, saya yakin kepercayaan wisatawan untuk menginap di villa selama libur di Bali akan meningkat," ujar Hendrawan.
Hendrawan mengimbau seluruh member BVA untuk menyiapkan diri menjalani sertifikasi. Ia pun mengingatkan soal penetapan risiko villa oleh pemerintah, dari semula risiko rendah menjadi menengah tinggi.
Penetapan itu secara tidak langsung harus dibarengi dengan sertifikasi dari masing-masing akomodasi. Karena dengan sertifikasi, pengelola dapat menjamin akomodasinya aman bagi wisatawan.
"Apalagi untuk pengurusan OSS (online single submission) ke depannya harus menyertakan sertifikasi. Jika tidak disertakan sertifikasi, OSS-nya tidak akan diproses," katanya.
"Jadi ini menjadi alasan kenapa sertifikasi ini penting ke depannya," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....