Ditempel Thailand, Bali Tetap Jadi Lokasi Wisata Pernikahan Paling Populer di Asia
- 13 Agt 2026 10:23 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Sanur - Bali masih menempati peringkat teratas sebagai lokasi wisata pernikahan (Wedding Tourism) paling populer di Asia. Pulau Dewata diikuti Phuket (Thailand), Maladewa, Udaipur (India) dan Kyoto (Jepang).
Ketua Bali Wedding Association (BWA), Veronika Ika Prawasti mengakui, Pulau Seribu Pura masih memiliki magnet luar biasa dalam menarik calon pengantin, baik dari dalam maupun luar negeri. Hal itu dibuktikan dari tingginya intensitas kegiatan pernikahan yang dilangsungkan di Bali.
"Market (pasar) sangat terbuka. Karena Bali selalu menjadi destinasi populer di dunia, banyak orang yang tidak pernah ke Bali, mau wedding di Bali. Jadi ke depannya menurut saya prospeknya masih cerah," katanya kepada wartawan di sela-sela pengukuhan pengurus BWA periode 2026-2030 di Sanur, Rabu 12 Agustus 2026
"Cuma kita juga harus peduli, karena sekarang persaingan ada di beberapa negara. Di Asia Tenggara itu misalnya kayak Vietnam sudah mulai, Thailand dari dulu sebagai pesaing kita, terus negara-negara lain seperti Uni Emirat Arab. Apalagi sekarang banyak negara sudah mendorong para pelaku industrinya untuk lebih menjual," lanjutnya.
Veronika menyampaikan, Singapura, Australia, India, Malaysia, Hong Kong, China, Amerika Serikat dan beberapa negara di kawasan Eropa menjadi pasar terbesar untuk pelaksanaan wedding di Bali. Menurutnya, kuantitas wedding di Bali mengalami peningkatan tiap tahunnya.
"Kalau menurut saya tahun ini tahun yang bagus. Karena angkanya naik terus. Cuma kalau di Bali ada sesinya, seperti April sampai Oktober kebanyakan weddingnya di bulan itu. Sedangkan November sampai Maret pasti turun," jelasnya.
Ia memperkirakan, jumlah wedding di Bali mencapai 3.000 pelaksanaan per tahun. Angka itu didapat dari jumlah rata-rata 40 sampai 50 pelaksanaan pernikahan oleh satu Wedding Organizer (WO).
Angka itu diperkirakan melebihi asumsi awal, jika ditambah dengan pelaksanaan wedding oleh WO yang tidak berada di bawah naungan BWA. Sedangkan saat ini, BWA baru menaungi 122 anggota.
"Ribuan wedding, 2.500 sampai 3.000 itu hanya member BWA. Belum yang non member," ujarnya.
"Makanya kami dari asosiasi mengimbau kepada semua pelaku WO untuk gabung kita. Fungsinya adalah kita ini menjadi payung yang melindungi, mengayomi, sehingga kalau ada apa-apa kita bisa memberikan advokasi atau perlindungan terhadap WO tersebut," imbuh Veronika.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengakui, tren pasar masih sangat positif. Oleh karenanya diperlukan strategi tepat agar tren ini bisa dikonversi menjadi peluang yang sangat positif.
"Dengan kondisi pariwisata saat ini, apa yang perlu dipersiapkan teman-teman kita yang bekerja di Wedding Organizer," katanya.
"Kita lihat sekarang kan WO asing sudah masuk Bali, tentu ini menjadi hal yang perlu diatensi," sambung pria yang akrab disapa Cok Ace itu.
Ditanya persaingan, Cok Ace memastikan kondisi itu juga pasti terjadi di sektor wedding tourism. Menurutnya kondisi itu juga memerlukan kesigapan pemerintah selaku regulator dalam mempermudah pelaksanaan pernikahan di Bali.
"Sehingga teman-teman yang bergerak di WO ini bisa mengkalkulasi berapa cost yang dibutuhkan, jadinya tidak abu-abu," pungkas mantan Wakil Gubernur Bali itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....