Mengawal Keberlanjutan Pariwisata Bali di World Tourism Day

  • 26 Sep 2025 19:18 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Hari Pariwisata Sedunia yang diperingati setiap 27 September menjadi momentum refleksi bagi Bali sebagai destinasi wisata dunia. Pulau Dewata yang selama ini menjadi andalan ekonomi Indonesia, kini menghadapi tantangan serius yang menyangkut infrastruktur, keamanan, kualitas layanan, hingga branding destinasi.

Pengamat pariwisata Bali, I Wayan Puspa Negara kepada RRI menilai, keberlanjutan pariwisata tidak bisa hanya bertumpu pada promosi, tetapi harus berangkat dari pembenahan mendasar di berbagai sektor. Ia mengidentifikasi setidaknya enam tantangan utama pariwisata Bali. Pertama, persoalan infrastruktur yang tidak berkembang seiring pertumbuhan kunjungan. Kedua, keamanan, yang masih dirundung kasus copet, begal, hingga money changer ilegal. Ketiga, kualitas pelayanan yang menurun karena pertumbuhan ekonomi tidak diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia.

“Hampir setiap hari masih ada kasus copet, jambret, money changer ilegal, hingga begal. Artinya, Bali belum memiliki 100 persen catatan keamanan. Jadi, tantangan utama pariwisata meliputi infrastruktur, keamanan, dan pelayanan yang belum diimbangi dengan kualitas SDM,” ujar Puspa Negara.

Lebih lanjut Puspa Negara menambahkan, tantangan keempat adalah branding, di mana citra Bali menurun setelah biro perjalanan wisata asing menilai Bali tidak layak dikunjungi pada 2025 karena persoalan sampah dan kemacetan. Kelima, menyangkut perilaku wisatawan maupun masyarakat yang berdampak pada citra destinasi. Dan keenam, persoalan sarana-prasarana, seperti toilet umum dan aksesibilitas yang belum memadai.

“Bali menghadapi persoalan serius seperti sampah, kemacetan, serta sarana-prasarana yang kurang memadai, misalnya toilet dan aksesibilitas. Semua ini harus segera ditangani agar citra destinasi tidak menurun,” ujarnya.

Di sisi lain, Puspa Negara juga menyoroti pentingnya penguatan sektor keamanan dengan mengaktifkan kembali tourism police maupun honorary police. Menurutnya, wisatawan harus merasa aman dan nyaman, sementara kehadiran polisi pariwisata akan memberi jaminan keamanan lebih baik, baik bagi penduduk lokal maupun wisatawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....