Perahu Nelayan Pecah Hantam Batang Kayu di Laut, Satu Belum Diketemukan
- 14 Sep 2026 15:05 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana - Tga orang nelayan asal Jembrana mengalami musibah kecelakaan, saat perjalanan pulang melaut di perairan Pantai Pulukan, Pekutatan, Rabu 9 September 2026 sore. Dua nelayan berhasil selamat dari maut, sementara satu lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian intensif.
Insiden bermula ketika sampan fiber bertuliskan Rahayu yang dinakhodai Neri Muhtakim (32) bersama dua rekannya, Samsul Hadi (36) dan I Gusti Putu Sugiarta (38), menabrak sebatang kayu besar yang mengapung di wilayah Takat Deken, Pukukan. Benturan keras tersebut menyebabkan perahu pecah dan tenggelam seketika sekitar pukul 17.00 WITA.
Ketiga nelayan sempat bertahan hidup dengan mengapung dan berpegangan pada puing-puing pecahan perahu. Sekitar 30 menit kemudian, sebuah perahu nelayan asal Pengambengan melintas dan berhasil menyelamatkan Neri serta Samsul.
Sayangnya, Gusti Putu Sugiarta terpisah akibat terseret arus deras sambil berpegangan pada pecahan katir perahu. Upaya pencarian mandiri oleh kedua korban selamat tidak membuahkan hasil hingga Kamis 10 September 2026 pagi, sebelum akhirnya peristiwa ini dilaporkan ke pihak berwenang.
Koordinator Pos SAR Jembrana, Dewa Putu Hendri Gunawan, membenarkan kejadian tersebut dan mengonfirmasi bahwa satu dari tiga korban kecelakaan masih hilang. "Sesuai laporan ada tiga orang yang mengalami kecelakaan laut kemarin. Satu orang masih belum ditemukan, sementara dua lainnya berhasil diselamatkan," ujarnya.
Hingga kini, tim SAR Gabungan Jembrana terus menyisir area perairan mulai dari Gilimanuk hingga Pengambengan. Memasuki hari kedua operasi, Jumat 11 September 2026, tim SAR gabungan yang bergerak sejak pagi hingga sore hari belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Pada operasi hari kedua ini, tim SAR gabungan memperluas area pencarian dari perairan Pengambengan hingga ke perairan Air Kuning, Kecamatan Negara. Wilayah penyisiran digeser ke arah timur setelah pada hari pertama fokus di kawasan Gilimanuk hingga Pengambengan. Dewa Hendri menjelaskan bahwa tim menyisir wilayah laut dari Pengambengan menuju Air Kuning, lalu mengarah ke selatan dan berputar kembali ke barat.
Selain mengerahkan rigid inflatable boat (RIB), tim juga mengoperasikan drone thermal untuk pemantauan udara serta menerjunkan personel untuk penyisiran darat di sepanjang pesisir. "Tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah kondisi angin kencang di perairan yang memicu gelombang dan menyulitkan pergerakan armada RIB," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....