Literasi Digital Generasi Muda Harus Diiringi Tanggung Jawab dan Etika

  • 10 Sep 2026 07:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perkembangan teknologi dan media sosial membuat generasi muda memiliki akses informasi yang semakin luas. Namun, kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan tanggung jawab, etika, serta kecakapan dalam menyaring informasi.

Prof. Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum. kepada RRI.CO.ID, Senin, 7 September 2026, mengatakan literasi digital menjadi salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki generasi muda saat ini. Ia menuturkan, generasi muda memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menggunakan teknologi digital dan kecerdasan buatan dibandingkan generasi sebelumnya.

Meski demikian, teknologi tidak boleh hanya digunakan untuk mencari jawaban secara instan. “Generasi muda sekarang lebih mampu menggunakan teknologi, termasuk AI. Namun, mereka harus memahami bahwa informasi yang diperoleh tidak serta-merta hanya dicari dan diambil, tetapi harus dipahami secara bertanggung jawab,” tuturnya.

Menurutnya, penggunaan AI dan teknologi digital harus disertai kemampuan berpikir kritis. Generasi muda perlu memastikan kebenaran informasi, membedakan fakta dan hoaks, serta memahami dampak dari setiap konten yang dibuat maupun dibagikan.

Selain itu, pemahaman mengenai keamanan data, privasi, dan jejak digital juga menjadi bagian penting dalam literasi digital. Setiap aktivitas di ruang digital, kata dia, dapat memberikan dampak terhadap kehidupan seseorang.

“Anak-anak muda harus mampu membedakan informasi dan hoaks, menjaga keamanan privasi digital, serta memahami jejak digital,” ujarnya.

Prof. Made Sri Satyawati menjelaskan, literasi digital tidak dapat dipisahkan dari literasi etika. Kemampuan menggunakan teknologi harus diiringi dengan kesadaran untuk berkomunikasi secara santun, menghormati orang lain, dan tidak menyebarkan informasi yang merugikan.

Ia menilai, media sosial juga membawa tantangan tersendiri karena sering menampilkan kehidupan yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Fenomena pamer gaya hidup atau flexing, misalnya, dapat memengaruhi cara generasi muda memandang kesuksesan dan kondisi sosial di sekitarnya.

“Dinamika sosial dengan kenyataan dan situasi di media sosial itu berbeda. Anak-anak muda harus memahami hal tersebut dan mampu melihat mana yang positif dan mana yang negatif,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa literasi tidak boleh hanya diarahkan pada kemampuan mengoperasikan perangkat digital. Literasi harus membentuk manusia yang mampu memahami lingkungan, bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, serta menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan.

Dalam konteks bahasa dan sastra, literasi juga berperan dalam membangun kepekaan terhadap budaya, kearifan lokal, dan nilai kemanusiaan. Pembelajaran bahasa dan sastra dapat membantu generasi muda memahami berbagai sudut pandang serta membangun sikap kritis.

Untuk membudayakan literasi, Prof. Made Sri Satyawati mendorong keluarga, sekolah, dan masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, serta mencari informasi secara mandiri.

Ia mengatakan, budaya literasi tidak cukup dibangun melalui program membaca dalam waktu tertentu. Literasi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan dilakukan karena adanya kebutuhan untuk memahami sesuatu.

“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami dunia, memahami lingkungan, berpikir kritis, menyaring informasi, berkomunikasi secara santun, dan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan perubahan yang positif,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....