Demi Bertahan, Petani Dataran Tinggi Buleleng Beli Air dan Adaptasi Tanaman

  • 04 Sep 2026 10:44 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Buleleng – Terbatasnya pasokan air selama musim kemarau menjadi kendala bagi para petani di kawasan dataran tinggi Kabupaten Buleleng. Karakteristik tanah lempung berpasir yang menyerap air dengan cepat membuat kebutuhan pengairan tanaman hortikultura cukup tinggi.

Ketua P4S Amerta Giri Lesung sekaligus Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Buleleng, I Kadek Agus Indrawan, menyampaikan bahwa petani harus menghemat air dan menyesuaikan pola tanam. Untuk memenuhi kebutuhan harian, warga memanfaatkan embung dan membeli air dari sumber air alami (beji).

"Untuk musim kemarau, yang pertama itu harus kita hemat air, adaptasi pola tanam. Di dataran tinggi kita masih menggunakan embung, beli air di sumber air yang sering disebut beji. Ditaruh di tandon ukuran dua ribu liter bawa pakai mobil. Untuk tanaman sayuran itu sehari saja sudah habis karena tanahnya lempung berpasir," ujar Indrawan.

Indrawan menjelaskan bahwa meski di wilayahnya terdapat danau, pemanfaatan airnya dibatasi oleh regulasi BKSDA demi menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini membuat petani mengangkut air tandon berkapasitas 2.000 liter dari sumber air terdekat menggunakan mobil untuk mengairi lahan perkebunan.

"Walaupun memang di daerah saya masih ada danau, tapi itu tidak bisa dimanfaatkan atau disedot langsung. Karena ada larangan dari BKSDA, tidak boleh menyedot air danau langsung untuk menyirami tanaman. Jadi kita mengambil air di sumber air atau beji, ditaruh di tandon terus dibawa pakai mobil ke dataran tinggi tempat kita berkebun," tambahnya.

Guna menyiasati penggunaan air yang tinggi pada tanaman sayur, petani mengombinasikan lahan mereka dengan komoditas yang lebih tahan cuaca kering. Tanaman bunga hias seperti gumitir dan pecah seribu menjadi alternatif pilihan saat musim kemarau.

"Kalau untuk tanaman yang cukup bertahan itu di tanaman komoditas bunga pecah seribu sama gumitir. Harapan saya sebagai petani di dataran tinggi yang masih mampu mempertahankan produksi pangan, itu perlu pengelolaan air yang lebih efisien, pemilihan komoditas dan varietas yang adaptif terhadap kekeringan," jelasnya.

Selain efisiensi varietas tanaman, Indrawan mendorong penggunaan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) untuk menghemat penggunaan air. Pengairan yang presisi dianggap dapat mengoptimalkan pasokan air yang terbatas pada tiap lubang tanam.

"Sistem irigasi tetes itu bisa efisiensi dan penghematan air. Kami berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah Kabupaten Buleleng dalam penyediaan sumber air dan struktur irigasi," kata Indrawan.

Petani berharap pemerintah daerah dapat mempermudah perizinan pembuatan sumur bor dan memberikan bantuan infrastruktur irigasi. Pengawasan terhadap pembangunan fasilitas pariwisata juga diharapkan tetap memperhatikan ketersediaan kawasan resapan air tanah.

"Pemerintah harus memperhatikan bagaimana kita mencegah kekeringan di musim kemarau, mulai dari penghijauan di tempat yang terlalu alih fungsi lahan. Untuk tingkat pariwisata seperti hotel dan vila, perlu diperketat aturan berapa persen lahan hutan yang harus dipertahankan demi menjaga ketahanan air tanah," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....