Lahan Pertanian di Seraya Karangasem Dibiarkan Kosong akibat Kemarau Panjang

  • 04 Sep 2026 10:46 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Karangasem – Puncak musim kemarau dan cuaca panas melumpuhkan aktivitas pertanian di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem. Ketiadaan sumber air lokal membuat para petani terpaksa membiarkan lahan mereka kosong tanpa penanaman.

Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Karangasem, I Wayan Widodo Jantriada, kepada RRI.CO.ID membenarkan bahwa krisis air menghentikan proses produksi pertanian warga. "Di Desa Seraya, kondisi saat ini kami mengalami kemarau cukup panjang. Keberadaan situasi kemarau ini membuat saat ini tidak ada yang namanya penanaman, karena situasi air yang begitu susah di desa kami," ujar Jantriada.

Aktivitas bertani di Desa Seraya biasanya hanya berlangsung dari Oktober hingga Maret sebelum terhenti saat musim kemarau. Petani tidak menggunakan air PDAM untuk mengairi lahan luas karena terkendala biaya tinggi.

"Kami hanya bertani di bulan-bulan Oktober, November, Desember, Januari sampai Maret. Terus terang saja kami untuk air di saat ini mengandalkan PDAM, jadi untuk bertani kalau pakai air PDAM itu cukup menguras budget yang tinggi, jadinya untuk lahan luas itu kosong saat ini," jelasnya.

Untuk menyiasati kondisi ini, sebagian petani menanam tanaman hortikultura seperti cabai dalam skala kecil. Penanaman dilakukan menggunakan sistem irigasi tetes (drip irrigation) agar hemat air.

"Kami bertani hortikultura lebih tepatnya, yaitu bertani cabai, karena menggunakan sebuah sistem modern dengan kapasitas kurang lebih seribu pohon. Karena sistem pertanian yang kami lakukan itu menggunakan sistem drip irigasi tetes namanya, air kami atur setiap tanaman itu kami beri air secukupnya," kata Jantriada.

Petani berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan mesin pompa penyedot air. Alat tersebut diperlukan untuk mengalirkan air dari embung desa ke lahan warga yang berada di dataran tinggi.

"Kebetulan kami di sini ada embung juga, cuma embung itu belum bisa kami manfaatkan secara penuh karena terkendala alat penyedotnya. Mudah-mudahan nanti pemerintah bisa membantu memfasilitasi kami agar bisa memanfaatkan embung itu untuk disalurkan ke masing-masing lahan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....