Inflasi Bali 3,45 Persen, Tertinggi dalam Empat Tahun Terakhir
- 02 Sep 2026 06:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Inflasi Bali pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen secara tahunan (year on year/yoy), menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Agustus 2024 sebesar 2,32 persen dan Agustus 2025 sebesar 2,65 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengatakan kenaikan inflasi perlu menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
"Secara year on year (tahun ke tahun), inflasi ini tertinggi dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Inflasi itu dampak yang paling jelas ke daya beli masyarakat," ujar Agus di Kantor BPS Provinsi Bali, Selasa 01 September 2026.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi Bali pada Agustus 2026 dengan andil 1,16 persen. Kelompok transportasi berada di posisi berikutnya dengan andil sebesar 0,76 persen.
Sementara itu, komoditas yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi adalah bensin. Komoditas tersebut memberikan andil 0,41 persen, dengan kenaikan harga mencapai 7,92 persen.
Menurut Agus, kenaikan harga bensin turut berkaitan dengan kondisi pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang sempat sulit diperoleh di sejumlah daerah, termasuk Bali. Meski menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir, BPS menilai tingkat inflasi Bali sebesar 3,45 persen masih relatif terkendali.
Agus mengatakan inflasi yang tinggi masih dapat diimbangi apabila terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Sebaliknya, apabila pendapatan tidak meningkat sementara harga barang terus naik, daya beli masyarakat berpotensi tertekan.
"Mudah-mudahan inflasinya naik, pendapatan masyarakatnya masih mampu untuk mengonsumsi barang-barang tersebut,"harapnya.
Agus menyebut kondisi inflasi mulai perlu mendapat perhatian lebih serius apabila angkanya menembus level yang jauh lebih tinggi. Dengan inflasi tahunan 3,45 persen pada Agustus 2026, perkembangan harga komoditas pangan, transportasi, dan energi menjadi faktor yang perlu terus dipantau untuk menjaga daya beli masyarakat Bali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....