Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Tetap Butuh Batas
- 31 Agt 2026 12:27 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Kebebasan berpendapat di era digital yang kian meluas dinilai harus tetap diimbangi dengan etika serta tanggung jawab sosial. Penggunaan media sosial secara bijak menjadi kunci penting agar ruang digital tetap kondusif dan saling menghargai.
1st Runner-up Putri Hijabfluencer Bali 2025, Dian Pancawati, kepada RRI.CO.ID pada Sabtu, 29 Agustus 2026 mengatakan bahwa kebebasan berekspresi di media sosial bukan berarti memberikan ruang bebas untuk menyampaikan hal apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. "Menurut saya, etika dalam bermedia sosial justru semakin penting ketika kebebasan berpendapat semakin luas. Kita perlu memahami bahwa di balik sebuah akun dan layar, ada manusia yang bisa menerima dampak dari apa yang kita tuliskan," ujarnya.
Ia menjelaskan, kedewasaan pengguna dalam bermedia sosial diuji dari cara menyampaikan pendapat dengan tetap menghormati publik. Sebelum mengunggah atau memberikan komentar, masyarakat diingatkan untuk selalu menyaring informasi serta mempertimbangkan azas kebenaran dan kemanfaatannya.
Lebih lanjut, Dian mengungkapkan beberapa poin mendasar yang kerap diabaikan pengguna media sosial, seperti memastikan kebenaran berita guna mencegah penyebaran hoaks, menjaga privasi, hingga menghormati hak cipta atas karya orang lain. "Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah orang terlalu cepat membagikan informasi tanpa pengecekan, berkomentar berdasarkan emosi, melakukan cyberbullying, atau menjadikan masalah pribadi orang lain sebagai konsumsi publik demi engagement. Mengejar views itu sah-sah saja, tetapi jangan sampai mengabaikan nilai dan etika," ungkapnya.
Menurut Dian, pemilihan bahasa di ruang publik digital memiliki daya pengaruh yang sangat besar. Komentar yang dianggap sepele atau sekadar candaan oleh pembuatnya dapat memberikan dampak psikologis mendalam bagi penerima, bahkan berpotensi memicu konflik sosial yang luas.
Ia juga menyoroti peran penting influencer dan figur publik dalam membentuk perilaku audiens. Sebagai pemegang pengaruh di media sosial, para pembuat konten diharapkan mampu memberikan teladan yang baik ketimbang hanya memburu popularitas semata.
"Menjadi influencer bukan hanya tentang membuat konten menarik, tetapi juga membawa nilai positif. Influencer yang sebenarnya adalah ketika apa yang kita sampaikan mampu memberikan dampak yang baik bagi orang lain," tuturnya.
Dian mengajak seluruh pengguna media sosial untuk tidak tergesa-gesa dalam bereaksi, melainkan lebih bijak dalam merespons setiap informasi maupun perbedaan pendapat. "Sebelum berkomentar atau membagikan sesuatu, berhenti sejenak dan tanya pada diri sendiri: apakah informasi ini benar, perlu disampaikan, dan santun? Menjadi bijak bukan berarti harus selalu diam, tetapi tahu kapan harus berbicara dan paham dampak dari apa yang kita sampaikan," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....