Perkembangan AI Perkuat Tantangan Etika di Ruang Digital

  • 31 Agt 2026 12:31 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai semakin menambah tantangan dalam penerapan etika bermedia sosial. Masyarakat tidak hanya dituntut bijak dalam menyampaikan pendapat, tetapi juga harus mampu memastikan kebenaran informasi dan keaslian konten yang dibagikan.

Pemerhati media, Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, kepada RRI.CO.ID, Sabtu, 29 Agustus 2026 mengatakan perkembangan AI membuat masyarakat semakin sulit membedakan informasi yang benar dengan konten hasil manipulasi, baik berupa foto maupun video. “Dengan adanya misalnya AI seperti sekarang ini, dia akan lebih menyulitkan kita untuk mengetahui atau mungkin agak sumir untuk informasi-informasi yang kemudian dikemas dalam AI. Entah itu video, entah itu foto,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat etika bermedia sosial perlu berjalan beriringan dengan kecerdasan dalam menggunakan dan mengidentifikasi konten berbasis AI. Ia menekankan pentingnya transparansi, kejujuran, autentisitas, serta kebenaran dalam setiap konten yang dibuat maupun dibagikan di ruang digital.

Salah satu langkah utama yang perlu dilakukan masyarakat adalah melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi. Hal tersebut berlaku baik terhadap konten yang dibuat sendiri maupun konten yang diterima dari pengguna lain.

“Yang pasti yang dipastikan adalah verifikasi kebenaran dari konten tersebut. Baik kita mendapatkannya atau kita mau re-share atau sharing dari konten yang sudah ada, kita harus memastikan terlebih dahulu bahwa konten yang akan kita share, konten yang akan kita buat atau minimal kita re-produce adalah konten-konten yang memiliki nilai-nilai kebenaran,” jelasnya.

Selain informasi, ia mengingatkan penggunaan AI untuk memanipulasi tampilan diri juga perlu memperhatikan batas kewajaran. Menurutnya, perubahan atau penyuntingan konten tidak seharusnya dilakukan secara berlebihan hingga menghilangkan keaslian atau menyesatkan audiens.

Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel menilai etika digital pada akhirnya bukan hanya berkaitan dengan larangan berkata kasar, menyebarkan informasi pribadi, atau melakukan doxing. Etika juga mencakup tanggung jawab terhadap kebenaran dan keaslian konten yang diproduksi.

Ia berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga media sosial sebagai ruang yang nyaman bagi semua kalangan dengan menerapkan sikap saling menghargai, membantu, dan menghormati. “Yang terpenting adalah kita harus menjaga media sosial itu menjadi ruang-ruang nyaman bagi kita semua. Oleh karena ruang-ruang nyaman ini yang harus dipelihara, adalah kita semua yang memelihara,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....