Dampak Kemarau, Petani Bali Beli Air hingga Gunakan Irigasi Tetes

  • 30 Agt 2026 18:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Buleleng, Karangasem – Puncak musim kemarau memicu krisis air yang mengancam produktivitas pertanian di wilayah Buleleng dan Karangasem. Kondisi ini memaksa para petani memutar otak dengan membeli air bersih hingga menerapkan sistem irigasi tetes presisi agar pasokan pangan tetap terjaga.

Di wilayah dataran tinggi Buleleng, petani kesulitan mengairi komoditas hortikultura seperti brokoli, kubis, sawi putih, sawi hijau, pokcoy, dan tomat. Karakteristik tanah setempat yang berupa lempung berpasir membuat air sangat cepat menyerap ke dalam tanah sehingga tanaman membutuhkan pasokan air yang jauh lebih banyak.

Ketua P4S Amerta Giri Lesung sekaligus Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Buleleng, I Kadek Agus Indrawan, kepada RRI.CO.ID mengatakan bahwa jenis tanah di dataran tinggi Buleleng memiliki daya serap yang sangat tinggi terhadap air. “Karena gini, di dataran tinggi itu cenderung tanahnya itu agak lempung berpasir jadinya serapan air itu terlalu banyak. Beda dengan di dataran rendah, dia tanahnya lempung liat kan, jadi mudah, tidak mudah menyerap air gitu,” ujar Indrawan.

Krisis air pertanian ini diperparah oleh adanya aturan tegas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang melarang penyedotan air danau secara langsung. Petani dilarang keras memasang mesin pompa di area danau untuk mengairi lahan perkebunan di sekitarnya.

“Walaupun memang di daerah saya masih ada danau, tapi itu tidak bisa dimanfaatkan atau disedot langsung kayak di Danau Batur tersebut. Karena itu ada larangan dari BKSDA yang berada di Buleleng,” kata Indrawan.

Untuk menyiasati aturan tersebut, petani terpaksa mengambil air dari sumber mata air atau beji menggunakan tandon. Air tersebut diangkut menggunakan kendaraan mobil ke area kebun, di mana satu tandon berkapasitas 2.000 liter bisa habis dipakai menyiram hanya dalam waktu sehari.

“Kita mengambil air di suatu sumber air atau di Bali yang sering disebut beji, itu kita ambil pakai tandon terus dibawa pakai mobil untuk dibawa ke dataran tinggi di tempat kita berkebun. Jadi memang agak kesulitan kalau kita sebagai petani berbudidaya di daerah-daerah kering dan sumber air juga nggak begitu banyak,” tutur Indrawan.

Selain terkendala pasokan air, opsi pembuatan sumur bor juga sulit dilakukan petani karena proses perizinannya yang rumit di kawasan perbukitan. Indrawan berharap pemerintah daerah membantu penyediaan infrastruktur irigasi hemat air serta mewajibkan vila dan hotel mempertahankan kawasan hutan resapan air.

“Nah sistem irigasi ini juga bisa, terutama sistem irigasi tetes itu bisa penghematan air. Dan juga di tingkat pariwisata, terutama di vila maupun hotel, itu perlu juga adanya atau mempertahankan berapa persen sih harus vila tersebut mempunyai hutan untuk menjaga ketahanan air,” ucap Indrawan.

Sementara itu di Desa Seraya, Karangasem, krisis air tahunan yang berlangsung sejak bulan April hingga Agustus melumpuhkan total aktivitas pertanian konvensional. Petani di kawasan tersebut terpaksa membiarkan lahan luas mereka kosong karena penggunaan air PDAM untuk bertani membutuhkan biaya operasional yang mahal.

Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Karangasem, I Wayan Widodo Jantriada, kepada RRI.CO.ID menjelaskan bahwa mahalnya biaya air PDAM membuat aktivitas pertanian di lahan luas terhenti. “Karena, terus terang saja kami untuk air di saat ini, karena kami penggunaan PDAM, jadi untuk bertani itu kalau pakai air PDAM itu cukup menguras budget yang tinggi. Jadinya untuk lahan luas itu kosong saat ini,” kata Jantriada.

Dampak kekeringan ini membuat produksi tanaman pangan pokok seperti jagung dan padi di Desa Seraya terhenti total. Demi menjaga pendapatan harian, petani mengalihkan fokus budidaya ke tanaman hortikultura penunjang lauk-pauk seperti cabai dan sayuran.

“Kalau ketahanan pangan, pokoknya di jagung atau padi, itu di musim kami, di daerah kami, terutama di Desa Seraya, itu saat ini belum bisa. Karena kami produksinya jagung, tapi karena kami hortikultura, itu cuma terputus untuk pangan lauk saja,” ungkap Jantriada.

Guna bertahan di tengah cuaca panas ekstrem Seraya yang berlangsung lebih dari 8 jam sehari, Jantriada secara mandiri berinisiatif menerapkan model pertanian modern skala kecil. Ia memanfaatkan teknologi irigasi tetes (drip irrigation) bertenaga panel surya untuk mengairi lahan percontohan miliknya agar tetap bisa bertani sepanjang tahun.

“Tapi kami, saya pribadi, karena fokusnya adalah bertani secara modern, jadi kami mengatur cuaca, kami menggunakan bertani secara sistem modern. Kami bertani hortikultura lebih tepatnya, yaitu bertani cabai, karena menggunakan sebuah sistem modern dengan kapasitas kurang lebih seribu pohon,” terang Jantriada.

Sistem irigasi presisi ini dipasang pada 1.000 pohon cabai dengan menggunakan pompa listrik bertenaga surya dan pengatur waktu (timer) otomatis. Pengairan yang terukur per tanaman mencegah air menguap sia-sia sekaligus melindungi tanaman dari serangan jamur akibat kelembapan berlebih.

“Bisa pakai gravitasi, tapi kalau lebih cepatnya kita bisa pakai pompa, listriknya kita pakai surya panel karena di Seraya panasnya hampir 8 jam lebih. Nanti itu di-set, setiap tanaman umur sekian butuh air berapa kita kasih segitu, sehingga air tidak terbuang sia-sia dan tanaman tidak stres,” jelasnya.

Sebagai alternatif jangka panjang untuk masyarakat luas, Jantriada yang juga berkolaborasi dengan komunitas Pertanian Muda Keren mendorong adopsi teknologi pertanian presisi ala Jepang. Model ini menggabungkan pembuatan bak penampung air hujan (cubang) di tiap plot lahan serta optimalisasi embung desa.

“Mungkin seperti di Jepang, dia itu setiap tanah ada cubang yang mungkin airnya itu bisa diambil dari pas musim hujan, ditampung. Kami juga bekerja sama dengan beberapa ahli, kemarin sama Pertanian Muda Keren juga kami bergabung, di sana kami belajar bagaimana cara bertani secara modern berbasis teknologi,” ujar Jantriada.

Namun, potensi embung air di Desa Seraya belum bisa dimanfaatkan secara optimal oleh warga karena posisinya berada jauh di dataran bawah. Petani Karangasem membutuhkan bantuan pemerintah berupa alat penyedot air berkapasitas besar untuk menaikkan air dari embung ke bak penampungan (cubang) warga di dataran tinggi.

“Posisinya itu cukup tinggi, kita itu terlalu tinggi, sedangkan embungnya itu di bawah, sehingga itu perlu alat yang memang benar-benar besar untuk menyedot airnya untuk diambil ke masing-masing perkebunan. Mudah-mudahan itu bisa nanti pemerintah membantu untuk memfasilitasi kami biar bisa memanfaatkan embung itu,” pungkas Jantriada.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....