Sawah Bali Susut 10.548 Hektare, BEM Pertanian Unud Soroti Krisis Regenerasi Petani

  • 29 Agt 2026 21:59 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Luas lahan sawah di Bali menyusut hingga 10.548 hektare dalam kurun sekitar delapan tahun. Di saat lahan pertanian terus tergerus alih fungsi, sektor pertanian Bali juga menghadapi persoalan lain yakni semakin rendahnya minat generasi muda untuk meneruskan profesi sebagai petani.

Persoalan tersebut menjadi sorotan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud). Ketua BEM Fakultas Pertanian Unud, Made Ariel Ardhiana, mengatakan sektor pertanian Bali menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Menurutnya, penyusutan lahan dan lemahnya regenerasi petani harus ditangani secara bersamaan. “Regenerasi pertanian harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai generasi muda semakin jauh dari sektor pertanian,” ujar Ariel, Sabtu 29 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali luas sawah Bali menyusut dari sekitar 78.626 hektare pada 2017 menjadi sekitar 68.078 hektare pada kondisi terkini. Alih fungsi lahan menjadi kawasan nonpertanian menjadi salah satu penyebab utama penyusutan tersebut.

Tekanan paling besar terjadi di daerah yang mengalami perkembangan pariwisata, seperti Badung, Denpasar, Gianyar, dan Tabanan. “Jika tidak dikendalikan, penyusutan lahan pertanian tidak hanya mengancam produksi pangan, tetapi juga keberlanjutan sistem subak yang menjadi salah satu fondasi pertanian Bali”, ungkapnya.

Selain lahan, Ariel menyoroti persoalan kesejahteraan petani. Menurutnya, regenerasi tidak akan berjalan optimal jika sektor pertanian belum mampu memberikan kepastian ekonomi bagi generasi muda.

Salah satu indikatornya tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP). Pada Maret 2025, NTP Bali tercatat 104,14, sedangkan NTP nasional mencapai 123,72.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam meningkatkan daya beli dan kesejahteraan petani Bali.

“Peningkatan pendapatan petani harus berjalan beriringan dengan perlindungan harga dan penguatan pasar produk pertanian lokal,” kata Ariel.

BEM Pertanian Unud sebelumnya telah menggelar Agriculture Expo 2026 selama tiga hari pada Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan sektor pertanian kepada generasi muda sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap produk pertanian lokal.

Ke depan, BEM Pertanian Unud juga berencana menggelar Agriculture Festival untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan produk pertanian lokal Bali. Ariel menilai Bali memiliki potensi besar untuk mengembangkan varietas lokal unggulan.

“Produk buah dan komoditas pertanian Bali mampu bersaing dengan produk impor jika mendapat dukungan pengembangan, promosi, serta akses pasar yang memadai,”ungkapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....