MUI Denpasar Dorong Generasi Muda Perkuat Persaudaraan ditengah Keberagaman

  • 27 Agt 2026 09:00 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dinilai dapat menjadi penggerak bagi generasi muda untuk memperkuat persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan di tengah keberagaman masyarakat Bali. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar, H. Khoeron, M.Pd., kepada RRI.CO.ID, Senin, 24 Agustus 2026 mengatakan kehidupan masyarakat yang beragam membutuhkan sikap saling menghormati dan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan kelompok yang memiliki latar belakang agama, suku, maupun budaya berbeda.

Ia menjelaskan, Rasulullah SAW telah memberikan contoh kehidupan bermasyarakat yang beragam ketika berada di Madinah. Saat itu, masyarakat memiliki latar belakang agama dan suku yang berbeda, namun kehidupan bersama dapat dibangun melalui kesepakatan dan sikap saling menghormati.

Menurut Khoeron, salah satu contoh penting yang dapat dijadikan teladan adalah Piagam Madinah yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Madinah dalam membangun kehidupan yang rukun dan damai. “Rasulullah SAW mampu mempraktikkan apa yang dituntunkan oleh Allah bagaimana harus menjalani kehidupan dengan masyarakat yang berbeda-beda. Ada Piagam Madinah yang menjadi kesepakatan bagi masyarakat Madinah,” ujar Khoeron.

Nilai tersebut, menurutnya, memiliki relevansi kuat dengan kondisi masyarakat Bali yang hidup dalam keberagaman agama dan budaya. Kehidupan masyarakat Bali yang majemuk membutuhkan komunikasi dan kerja sama lintas kelompok agar kerukunan tetap terjaga.

Khoeron menyebut keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB menjadi salah satu wadah yang dapat memperkuat komunikasi antarumat beragama di Bali. Ia juga menyampaikan bahwa Kota Denpasar memperoleh penghargaan sebagai kota kerukunan nomor tiga tingkat nasional pada 2025.

Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa kehidupan masyarakat yang beragam dapat berjalan dengan baik melalui komunikasi dan kerja sama. “Kalau di Bali itu umatnya rukun, berdampingan, tokoh-tokohnya terus menjalin komunikasi,” ungkapnya.

Meski demikian, Khoeron menilai pembinaan kerukunan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan hingga tingkat masyarakat paling bawah. Dinamika masyarakat yang terus berubah membuat komunikasi dan pembinaan lintas kelompok harus terus diperkuat.

Khusus kepada generasi muda, Khoeron berpesan agar tidak berhenti belajar dan mendalami ajaran agama. Menurutnya, pemahaman agama yang baik penting agar generasi muda mampu menerapkan nilai keagamaan secara tepat dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Jangan berhenti belajar. Jangan sampai dalam mempraktikkan nilai-nilai ajaran agama ini dalam praktiknya tidak tepat,” tegasnya.

Ia mengingatkan generasi muda agar menghindari sikap ekstrem dan terus memahami ajaran Islam yang moderat atau wasathiyah. Sikap tersebut dinilai menjadi kunci untuk membangun hubungan yang baik dengan siapa pun, termasuk masyarakat yang berbeda agama, daerah asal, maupun latar belakang budaya.

Khoeron menekankan bahwa keteladanan Nabi Muhammad SAW tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memuliakan sesama. “Bagaimana memuliakan sisi kemanusiaan menjadi sebuah keniscayaan. Ini menjadi maqashid syariah, memuliakan kemanusiaan,” jelasnya.

Ia mendorong generasi muda untuk aktif memanfaatkan berbagai wadah lintas agama dan kepemudaan yang telah tersedia. Menurutnya, ruang interaksi tersebut dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan sekaligus membangun pemahaman terhadap keberagaman.

Khoeron menyebut sejumlah wadah yang dapat dimanfaatkan generasi muda, antara lain Forum Kerukunan Generasi Muda, Forum Perempuan Lintas Agama, FORPELA, FORGIMALAM, Remaja Masjid, hingga Remaja Musala. Di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi, generasi muda juga diminta lebih selektif dalam memilih sumber pengetahuan agama.

Kemudahan akses informasi harus diimbangi dengan kemampuan memahami ajaran secara utuh agar tidak mudah terpengaruh pemahaman yang keliru. “Mari pemuda atau remaja Islam jangan bosan, jangan kemudian cepat puas. Mari kita berupaya dengan sungguh-sungguh memahami ajaran agama ini untuk kemudian bisa dipraktikkan dalam masyarakat yang beranekaragam,” pungkas Khoeron.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....