Gandeng Hotel dan Kafe, Produk Lokal Bali Perluas Pasar Pariwisata
- 24 Agt 2026 09:33 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Hotel, restoran dan kafe menjadi salah satu pasar bagi produk lokal Bali. Di Buleleng, sejumlah hasil pertanian seperti talas dan kecombrang telah diserap untuk kebutuhan pariwisata, sementara pelaku UMKM memperluas pasar melalui jejaring dengan pelaku usaha pariwisata.
Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Amerta Giri Lesung sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pemuda Tani Indonesia Buleleng, I Kadek Agus Indrawan mengatakan, talas menjadi salah satu produk pertanian Buleleng yang diserap sektor pariwisata. Kecombrang juga telah digunakan dalam kuliner dan dikenal sebagai salah satu produk lokal.
“Yang di Buleleng itu kebanyakan yang diserap ke pariwisata itu seperti talas, kayak ubi talas kayak gitu. Terus kecombrang itu memang sudah terkenal di kuliner, jadi sudah dimasukkan kuliner nasional itu,” ujar Agus.
Selain talas dan kecombrang, Buleleng memiliki anggur hitam dan buah bekul atau bidara yang diminati wisatawan mancanegara. Menurut Agus, buah bidara bahkan mulai memiliki daya tarik yang menyamai komoditas apel.
“Kalau di Buleleng itu banyak yang seperti anggur, anggur hitam Buleleng itu yang terkenal. Terus ada yang kemarin itu ada buah bekul. Kalau di bahasa Indonesia itu kan buah bidara. Itu sudah menjadi daya tarik dan sudah menyamai tingkatnya dengan komoditas apel. Itu yang sudah diminati oleh tamu-tamu luar negeri,” katanya.
Namun, produksi pertanian yang masuk ke pasar pariwisata tidak selalu stabil. Perubahan iklim dan penurunan produktivitas tanaman dapat menghambat pasokan ke supermarket, restoran dan hotel.
“Kalau untuk di tahun-tahun ini itu memang ada penurunan karena ini berkaitan dengan iklim. Penurunan produktivitas tanaman juga ada, jadi itu juga bisa menghambat penyuplaian, baik itu supermarket, restoran, hotel,” ujar Agus.
Untuk menjaga pasokan, petani dapat bekerja sama dengan pihak yang membutuhkan produk sejak tahap budidaya. Jenis produk, jumlah dan harga dapat disepakati melalui kerja sama sehingga petani mengetahui kebutuhan pasar dan hasil produksinya memiliki tujuan penjualan.
Agus mencontohkan kerja sama penanaman tanaman sorel yang digunakan untuk salad. Petani mendapat benih dari pihak yang membutuhkan, kemudian hasil panen diserap sesuai kesepakatan.
“Tanaman sorel ini kan tanaman impor yang sering digunakan untuk salad. Jadi dia artinya sudah mengunci satu petani untuk menanam tanaman tersebut. Jadi dia memberi jaminan, di mana jaminan itu seperti benih. Contohnya ini saya kasih benih, tolong budidayakan nanti hasilnya saya serap,” jelas Agus.
Menurut Agus, pola kerja sama tersebut dapat memberikan kepastian pasar bagi petani. Namun, kerja sama dengan pemasok juga perlu memperhatikan keuntungan petani sebagai pihak yang memproduksi barang.
“Jadi produk-produk itu biar bisa berjalan. Artinya petani merasa produknya diambil. Artinya dibeli oleh supplier. Dan supplier itu bisa mendistribusikan ke tingkat-tingkat pariwisata,” ujarnya.
Sementara dari sektor UMKM, akses ke pasar pariwisata diperluas dengan membangun jejaring bersama hotel dan kafe. Produk UMKM diperkenalkan kepada calon mitra, kemudian pelaku usaha dipertemukan melalui kegiatan business matching.
Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali, Dr. Anak Agung Ayu Ngr Tini Rusmini Gorda mengatakan, kerja sama dengan hotel dan kafe dilakukan untuk memperluas jaringan usaha UMKM.
“Kami sudah bekerja sama dengan hotel, dengan kafe-kafe. Jadi di mana ada suatu crowd, di situ kami coba untuk membangun jejaring, kami perkenalkan dan di situ akan ada business matching,” ujar Tini.
Selain membangun kerja sama, HIPPI Bali juga menggunakan kegiatan seperti Sunday Market untuk memperkenalkan produk UMKM dan mempertemukan pelaku usaha dengan pasar. Menurut Tini, transaksi produk lokal perlu terus diperkuat agar penggunaan produk lokal tidak berhenti sebagai slogan.
“Harapan saya adalah gencarkan terus transaksi lokal dan jargon menjadi suatu implementatif bahwa cintai produk lokal dan pakailah. Itu poinnya,” kata Tini.
Perluasan pasar melalui hotel, restoran dan kafe memberi ruang bagi produk pertanian dan UMKM untuk masuk ke rantai kebutuhan pariwisata. Di sisi lain, kepastian pasokan dan kerja sama yang menguntungkan petani dan pelaku usaha menjadi hal yang perlu diperkuat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....