Mangrove Denpasar Selatan Terancam Sampah Plastik

  • 31 Jul 2026 15:32 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Tumpukan sampah plastik yang terbawa aliran sungai mengancam kelestarian kawasan mangrove di Denpasar Selatan. Kondisi tersebut mengganggu pertumbuhan mangrove sekaligus berdampak pada keseimbangan ekosistem pesisir.

Manajer Lapangan Sungai Watch, I Made Dwi Bagiasa, mengatakan tumpukan sampah plastik terlihat di kawasan hilir sungai di Banjar Pesanggaran, Kelurahan Pedungan. Menurutnya, kawasan mangrove di lokasi tersebut turut terdampak sampah yang terbawa aliran sungai.

"Tidak hanya laut yang menjadi korban, banyak mangrove di Denpasar Selatan. Perlu dicatat juga yang membuat saya miris, di belakang Indonesia Power, Banjar Pesanggaran, Desa Pedungan, sampahnya kayak TPA."

Dwi Bagiasa mengatakan, persoalan sampah di lokasi tersebut bukan hal baru. Selama enam tahun bergabung dengan Sungai Watch, pihaknya telah tiga kali melakukan pembersihan di lokasi yang sama, namun sampah terus kembali menumpuk.

"Dan hingga sampai saat ini, ketika penanganan sudah dilakukan, dari enam tahun saya bersama Sungai Watch, saya sudah tiga kali membersihkan, dan sekarang seperti TPA. Bukan pembersihan dilakukan, tapi bagaimana sebenarnya penegakan hukum mengedukasi masyarakat betapa pentingnya aliran sungai yang menuju mangrove."

Ia menjelaskan, sebagian besar sampah yang hanyut di aliran sungai merupakan plastik sekali pakai, seperti plastik kresek, kemasan saset, plastik bening, hingga popok sekali pakai. Jenis sampah tersebut mudah mengikuti arus air dan akhirnya tersangkut di kawasan mangrove.

"Yang jadi permasalahan dengan jaring kita adalah ketika yang hanyut di aliran sungai itu adalah plastik kresek, saset, plastik bening. Jadi itu akan mengikuti arah air, dia sangat fleksibel. Dan yang terjadi adalah itu yang memenuhi mangrove kita sekarang. Jenis sampah yang paling parah itu plastik kresek, saset, dan pempers."

Menurut Dwi Bagiasa, tumpukan sampah plastik dapat menutup akar mangrove sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Kondisi tersebut juga menurunkan kualitas air dan mengancam berbagai jenis ikan, kepiting, serta udang yang hidup di kawasan mangrove.

"Ada beberapa jenis mangrove yang akan mati ketika akarnya ditutupi sampah plastik. Ketika daratan rawa-rawa itu ditutupi plastik, mangrove tidak akan bisa tumbuh alami. Kemudian yang sangat berdampak sekali adalah ekosistem. Kualitas air menurun, beberapa jenis ikan sudah langka, kemudian kepiting dan udang itu ke depan akan tereliminasi dari mangrove kita."

Dwi Bagiasa berharap penanganan sampah tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pembersihan, tetapi juga melibatkan pemerintah, desa adat, dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi semua pihak menjadi kunci untuk menjaga sungai dan kawasan mangrove tetap lestari.

"Saya harap pemerintah, Kota Denpasar, Badung, Bali umumnya tidak hanya sekedar wacana, tapi bagaimana kita harus berbagi tugas. Kemudian harus melibatkan desa adat, ketika yang paling dekat dengan masyarakat kita di Bali adalah adat. Tidak menutup kemungkinan ketika bicara adat, tidak bisa lepas dari bagaimana Bali kita harus solid, berkolaborasi antara adat dan dinas dalam menjaga lingkungan."

Ia juga mengajak masyarakat memulai perubahan dari diri sendiri dan keluarga dengan mengelola sampah secara lebih bijak. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga sungai, mangrove, dan ekosistem pesisir di Bali.

"Tetap pertahankan, kuatkan iman untuk lebih peduli. Satu, bijak memperlakukan sampah untuk diri sendiri dan keluarga dulu."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....