Sungai Watch Soroti Ancaman Sampah Plastik di Sungai Bali

  • 27 Jul 2026 10:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Sungai Watch menyoroti kondisi sungai di Bali yang masih menghadapi persoalan sampah. Sampah yang masuk ke aliran sungai tidak hanya berdampak pada kebersihan sungai, tetapi juga kawasan mangrove hingga pesisir.

Field Manager Sungai Watch, I Made Dwi Bagiasa kepada RRI.CO.ID mengatakan, persoalan sungai di Bali tidak terlepas dari hubungan masyarakat dengan lingkungan. Menurutnya, sungai menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali, termasuk mendukung sistem subak yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia.

"Terkait dengan sungai ya, tentunya kita di Bali sangat merasa sedih. Apalagi kita di Bali masih ada sawah dengan sistem subak yang sangat terkenal di dunia ini, sudah ada pengakuan. Banyak hal-hal yang kita abaikan. Kita merasa tidak punya andil dalam menjaga sungai," ujar I Made Dwi Bagiasa, Minggu, 26 Juli 2026.

Ia menyebut, salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah sampah yang terbawa aliran sungai hingga kawasan hilir. Kondisi tersebut turut berdampak pada kawasan mangrove di Denpasar Selatan yang menjadi bagian penting dari ekosistem pesisir.

"Tentunya yang terjadi sekarang adalah tidak hanya laut yang menjadi korban, banyak mangrove di Denpasar Selatan. Banyak mangrove yang kelak ketika tidak diawali dari hari ini, kelak mangrove akan berubah fungsi. Di sebelahnya ada jogging track yang akan menjadi objek wisata untuk masyarakat Bali dan Kota Denpasar yang terdekat khususnya. Kemudian ada aliran sungai," jelasnya.

Dwi Bagiasa mengatakan, mangrove memiliki peran sebagai penyaring alami yang membantu menjaga lingkungan pesisir dari sampah yang terbawa aliran air. Namun, tumpukan sampah plastik dapat mengganggu pertumbuhan mangrove dan kondisi ekosistem di sekitarnya.

"Tentunya kita sangat berterima kasih kepada mangrove, dia diibaratkan sebagai jaring sampah natural, alami. Kenapa kita harus menjaga mangrove? Karena ada beberapa jenis mangrove yang akan mati ketika akarnya ditutupi sampah plastik," katanya.

Menurutnya, dampak sampah plastik tidak hanya terlihat pada kondisi mangrove, tetapi juga berpengaruh terhadap ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Sampah yang menutupi area rawa dan mangrove dapat menurunkan kualitas air serta mengganggu keberadaan sejumlah biota.

"Ketika daratan rawa-rawa itu ditutupi oleh plastik, mangrove tidak akan bisa tumbuh alami seperti itu. Kemudian yang sangat berdampak sekali adalah ekosistem. Kualitas air menurun, yang terjadi adalah beberapa jenis ikan sudah langka, ada ikan pukul-pukul seperti gabusnya mangrove, itu sudah langka banget. Kemudian ada batu-batu, kepiting, udang," ungkapnya.

Ia menambahkan, sampah plastik sekali pakai menjadi salah satu jenis sampah yang banyak ditemukan karena mudah terbawa arus sungai. Sampah seperti plastik bening dan saset disebut kerap menumpuk di kawasan mangrove setelah terbawa aliran air.

"Yang jadi permasalahan dengan jaring kita adalah ketika yang hanyut di aliran sungai itu adalah plastik bening, saset. Jadi itu akan mengikuti arah air, dia sangat fleksibel. Dan yang terjadi adalah itu yang memenuhi mangrove kita sekarang," ujar I Made Dwi Bagiasa.

Ia menilai, menjaga kebersihan sungai tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan pembersihan sampah. Menurutnya, perlu ada edukasi kepada masyarakat serta kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan desa adat agar persoalan sampah dapat dikurangi dari sumbernya.

"Tentunya ini PR kita bersama ya. Saya harap pemerintah kota, Badung, Bali umumnya tidak hanya sekadar wacana, tapi bagaimana kita harus berbagi tugas. Ada yang bagian pemerintah, bagaimana masyarakat memperlakukan sampahnya yang mengarah ke sungai. Kemudian harus melibatkan desa adat, ketika yang paling dekat dengan masyarakat kita di Bali adalah adat," tuturnya.

I Made Dwi Bagiasa berharap masyarakat semakin peduli terhadap kondisi sungai di Bali dan lebih bijak dalam memperlakukan sampah. "Sungai kita di Bali sedang tidak baik-baik, tapi bagaimana ke depan kita bijak memperlakukan sampah agar sungai tetap asli seperti dulu lagi," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....